Maya Azeezah

mayaNama Aslinya adalah Maya Damayanti dengan nama penulis Maya Azeezah yang lahir pada 30, April tahun 1972, di Jakarta. Belajar menulis puisi sejak duduk di SMP yang hanya di pasang di mading sekolah dan tak sempat dikumpulkan.

Kemudian memulai berkesenian bersama Almarhum suaminya Eka Surya Saputra di tahun 2009, Maya mulai mempelajari dan menulis sendiri monolog di kota Jogja, kemudian terus belajar menulis dan membuat naskah panggung, serta mensutradarai karyanya.

Maya juga pernah penggiat di Badan Narkotika BNP D.I Yogyakarta. Sesekali Maya juga menjadi pemeran/aktris dalam karyanya.

Karya Maya yang pertama adalah naskah drama musikal “Selamatkan Ibu Pertiwi” yang di pentaskan hari Kemerdekaan RI 17 Agustus di kota Depok, tahun 2010. Lalu hijrah ke kota Yogyakarta dalam rangka Hari Anti Narkotika International ia menulis karya monolog dan diperankan sendiri di sutradarai oleh almarhum suaminya judul “Hitam Putih” versi Monolog tahun 2010.

Karena meltusnya gunung Merapi 2011, ia hijrah Jakarta, aktif bersama suaminya di BNN RI sebagai konseler menciptakan pementasan berbentuk sosialisasi judul “Pulanglah” dipentaskan pada Pergelaran Anti Norkoba bersama Badan Norkotika Nasional Republik Indonesia, tahun 2012.

Selanjutnya untuk menulis dan mementaskan karya, Maya membentuk satu komunitas grup teater untuk wilayah Jakarta Utara, lahirlah karya berikutnya berupa naskah drama berjudul “Hitam Putih” dan dipentaskan pada Festival Teater Jakarta (FTJ) wilayah Jakarta Utara dan final FTJ DKI Jakarta tahun 2012. Ketika itu berhasil menjadi aktris terbaik, group terbaik dan layak masuk menuju provinsi DKI Jakarta.

Sejak itu, Maya sangat mencintai kegiatannya sebagai penggiat teater dan menjadi bagian dari kehidupannya. Kemudian ia menulis naskah drama berjudul “Istana Pasir” disuguhkan pada pentaskan pada FTJ wilayah Jakarta Utara dan Final FTJ DKI Jakarta tahun 2013, dan kembali masuk final untuk wilayah provinsi DKI Jakarta.

Pergerakan Maya pun tak henti bersama BNN Badan Narkotika Nasional, meskipun menghadapi hari berduka suaminya yang dipanggil oleh Allah SWT, ia harus sendiri. Kemudian ia mendapat kepercayaan membuat naskah drama yang disosialisasikan secara Nasional bersama BNN RI kerjasama beberapa kementrian, menulis judul “Bunda Laksmi” dipentaskan pada Hari Forum Nasional Anak se- Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta tahun 2014.

Untuk keperluan ini, Maya mengusung Group Teaternya yang pada saat itu bernama Lintas Teater Jakarta, dan seterusnya mensosialisasikan P4GN melalui seni pertunjukan bersama BNN “Ibu Selamatkan Negeri” dipentaskan pada acara DharmaWanita persatuan pusat R.I tahun 2015 dan beberapa naskah sosialisasi yang sudah ia gelar.

Kesendirian Maya melahirkan satu naskah perempuan Judul “Perempuan Dalam Gerbong”, dipentaskan pada FTJ wilayah Jakarta utara tahun 2016 dan menjadi Juara harapan I. Setelah itu, ia mementaskan karya ini ke pertunjukan pada acara memperingati Hari Teater Dunia di Solo, 2017

Maya juga banyak membantu mahasiswa IKJ “Emergency Room” yang dipentaskan dalam Ujian seni pertunjukan, tahun 2014.

Karya lainnya adalah “Pulanglah Ayah” yang ditayangkan pada Vidio.com dalam rangka Festival Film Pendek bersama komunitas anak-anak Film Makassar, yang diadakan oleh SCTV tahun 2016.

“Kaleng” yang baru saja ia produksi ditahun 2017, ia persembahkan untuk mahasiswa FFTV IKJ untuk kebutuhan ujian.

Tak hanya naskah drama dan panggung skenario film, ia pun sejak 2013 juga ikut aktif pada dunia sastra dan mengisi buku Antologi puisi bersama diantaranya “Kartini Masih di Situkah Kau?”, “Mey Wulan”, “Membaca Kartini”, “Kasih Ibu”, dan “Tadarus Puisi”,

Maya mengikuti Seminar Sastra Internasional 2016 di kota Yogja hingga puisinya pun tercantum dalam Buku “Antologi Puisi Yogya Dalam Nafasku”, penerbit Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016.

Maya pun telah memiliki tiga antologi puisi tunggal dan satu naskah drama berkat bimbingan Dapur Sastra Jakarta yang sekarang sebagai rumah dan meja belajar tempatnya menuangkan segala tulisan, yaitu kumpulan puisi “Mengenal dan Mengenang” (2014), “Catatan Kehilangan“ (2016), “Risalah Cinta” (2017), sería buku naskah drama “Perempuan Dalam Gerbong” (2017). Naskah drama ini pun telah dipentaskan saat selesai diluncurkan buku tersebut di acara perayaan Hari Teater Dunia di kota Solo 2017.

Saat ini Maya aktif sebagai salah satu admin di grup Dapur Satra Jakarta.

“Pena dan aksara adalah perjuangan,
dan ketaatan pada-Nya adalah kecintaan”

Email: mayaazeezah72@gmail.com