Salimi Ahmad

FB_IMG_1502015429538Di kalangan teman-teman FB’ers, dia biasa disapa Encang atau Cang Salimi Ahmad.

Lahir di Jakarta, 22 Mei 1956. Awalnya, dia tertarik melukis. Itu salah satu sebab, mengapa setelah lulus SMP, 1972, dia bersikeras melanjutkan sekolah ke SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, setingkat SMA, awal 1973) di Yogya, meski di sana dia tidak memiliki sanak keluarga.

Namun konyolnya, kurang dari setahun, dia balik lagi ke Jakarta, lalu melanjutkan sekolah di SMA, pertengahan 1974. dan ke IKIP jakarta, 1977, yang akhirnya membuatnya meraih gelar sarjana pendidikan.

Selama di Yogya, selain belajar melukis, dia juga belajar menulis, khususnya puisi, melalui rubrik PSK (Persada Studi Klub), asuhan Umbu Landu Paranggi. Beberapa karyanya pernah muncul di sini, juga di koran Eksponen-Yogya.

Dia juga belajar teater di bawah asuhan Niki Kosasih (Alm, penulis drama-radio Saur Sepuh), dan beberapa kali pentas, di antaranya di UGM.

Kembali ke Jakarta, dia meneruskan hobi melukisnya di Bengkel Pelukis Jakarta asuhan Sulebar Sukarman. Selama di SMA, hasil lukisannya menjuarai tiga kali berturut-turut Lomba Lukis tingkat SMA se-Jakarta, se-Indonesia, dan se-Jakarta, sebagai Juara 3, Harapan 1, dan Juara 3.

Di Jakarta, bersama kedua teman SSRI-nya (Lazuardi Adi Sage, Alm, dan Jim B Aditya) mendirikan Kolase Kliq/Kelompok Kecil, sebuah grup teater yang didirikan dengan maksud ikut serta dalam ajang Festival Teater Jakarta, 1976-1977. Lolos mengikuti babak final untuk pentas di panggung TIM, namun tidak berhasil masuk dalam pembinaan DKJ.

Dia juga aktif di Sanggar Prakarya asuhan Sutjahjono (alm), sejak tahun 1974. Beberapa kali ikut pentas, dan salah satunya “Pak Kikir dan Timun Mas” di Teater Arena, TIM, Jakarta.

Di IKIP Jakarta, semasa jadi mahasiswa, dia ditunjuk sebagai Koordinator Teater, di bawah sie Kesenian Dewan Mahasiswa IKIP Jakarta, 1977-1979. Sempat mementaskan beberapa judul naskah, di antaranya “Lysistrata” (1978) yang dipentaskan di tiga Kampus dari 5 kampus yang direncanakan: IKIP Jakarta, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan IKIP Bandung, sebagai bagian membangun semangat solidaritas antar-kampus atas perkembangan politik masa itu.

Dua kampus lainnya; ITB dan UGM, pentasnya tidak mendapat ijin. Juga sempat membuat Parade Teater Kampus yang diikuti enam grup. Empat grup dari IKIP Jakarta (Fakultas Pendidikan Sastra dan Seni, Fakultas Pendidkan Ilmu Sosial, Fakultas Pendidikan Teknik, dan Fakultas Pendidikan MIPA) dan dua grup lainnya dari luar, yang dilanjutkan dengan ajang dialog “Teater Kampus di Masa Depan” .

Seusai penyelenggaraan “Penyair Muda di Depan Forum” Suku Dinas Kebudayaan DKI Jakarta (dia hadir sebagai undangan saja), 1980, dia bersama teman-teman peserta mendirikan “Bengkel Sastra Ibukota” atas fasilitas yang diberikan Disbud DKI Jakarta, di bawah mentor Dami N. Toda, dan secara rutin menyelenggarakan diskusi sastra setiap hari Sabtu atau Minggu, di salah satu ruangnya di lantai 2, di kawasan Kuningan Jakarta.

Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, pop-art, dan vignet tersebat di beberapa media, di antaranya: Suara Karya, Angkatan Bersenjata, Sinar Harapan, Aktuil, Gadis, Anita, Varia.

Selain telah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal “Di Antara Kita” yang juga berisi lukisan-lukisan hasil karyanya, puisinya juga dimuat di penerbitan buku Antologi Puisi, di antaranya: Kado Sang Terdakwa (2010), Senja di Batas Kata (2011), Tifa Nusantara 2 (2015), Tifa Nusantara 3; Ije Jela (2016), Palagan Sastra (2016), Memo Anti Terorisme (2016), Negeri Laut (2015), Negeri Awan (2017), Puisi Kopi 1.550 mdpl (2017), dari Loksado untuk Indonesia (2017).

Sekarang Salimi Ahmad adalah salah satu admin pada grup Dapur Sastra Jakarta dan  mengelola grup #puisi3baris di FB, dan telah menerbitkan buku Antologi puisi “Gerhana” untuk memperingati peristiwa gerhana matahari total, Rabu, 9 Maret 2016, sekaligus sebagai bentuk apresiasinya bersama teman-teman -lama maupun baru, yang berminat mengembangkan puisi.