Remmy Novaris DM

1451546_10201298732496449_1852511246_nRemmy Novaris Daud Masinambouw atau lebih dikenal dengan nama penanya Remmy Novaris DM, lahir 5 November 1958.

Di balik penampilannya yang bersahaja, tersimpan rekam jejak yang sangat panjang pada dunia sastra di Indonesia. Dia adalah seorang sastrawan yang banyak menulis puisi di samping karya sastra lainnya

Kiprah kepenyairannya sudah dimulai sejak tahun 1976 sewaktu masih siswa SMA ikut Dapur Sastra Bulungan. Sebelas tahun kemudian, tahun 1987 diundang pada Penyair Muda di Depan Forum Dewan Kesenian Jakarta. Pada awal 1980-an pernah aktif di Bengkel Sastra Ibukota.

Sejak remaja Remmy sudah aktif menulis di berbagai media ibu kota dan daerah. Sejumlah cerpennya pernah dimuat majalah Gadis, majalah Sarinah, majalah Anita Cemerlang, majalah Hai, koran Tribun Olah Raga, koran Jawa Pos, koran Media Indonesia, koran Sinar Harapan, dan lain-lain. Remmy pernah menjadi pemenang penulisan Puisi Ulang Tahun Sinar Harapan XII.

Pada tahun 1996, Remmy pernah ditunjuk oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai koordinator pelaksana serta kurator yang memilih 90-an penyair dari seluruh daerah di Indonesia untuk Pertemuan Sastra Mimbar Penyair Abad 21 di Jakarta.

Minatnya yang besar terhadap pembinaan sastra ditunjukkan dengan mendirikan grup Dapur Sastra Jakarta pada tahun 2011 dan sampai saat ini terus aktif membina kegiatan sastra di sana.

Berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya ruang tampil untuk para sastrawan dan seniman pada umumnya, pada tahun 2017, Remmy bersama beberapa seniman lainnya menggagas Seni Lapak Cikini (Selaci) yang tampil pada setiap Jum’at malam minggu terakhir setiap bulan di pelataran Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tetapi belakangan Remmy mengundurkan diri karena ketidaksepahaman visi dan misi dengan yang lainnya.

Remmy banyak menulis puisi, cerpen, esei, kritik, dan skenario. Tulisan-tulisannya pernah dipublikasikan di media cetak dan eletronik. Berbagai karya Remmy tersebut dapat diakses melalui Google dengan nama pencarian “Remmy Novaris”.

Puisi-puisinya dimuat di beberapa antologi puisi antara lain, “Yang” (1976), “Dari Pepatah Lama” (1976), “Serayu” (1997), “Mimbar Penyair Abad 21” Dewan Kesenian Jakarta (1996), “Angkatan 2000” (editor Korie Layun Rampan, 1999), dan “Dongeng Para Penyair” (2010).

Pernah diundang di beberapa kegiatan sastra seperti, Penyair Muda di Depan Forum Dewan Kesenian Jakarta (1987), Forum Penyair Muda Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta (1989), Festival Seni Surabaya (1989), Temu Sastra Nusantara, Payakumbuh, Sumatra Barat, (1996), Temu Sastra Nusantara, Johor, Malaysia (1997) serta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia I (2016) dan II (2017).

Remmy juga diundang pada Kongres Kesenian Indonesia (KKI), sebuah pertemuan sepuluh tahunan yang diikuti para seniman terpilih Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kongres ini kali pertama diadakan pada tahun 1995 dan Remmy masuk ke dalam kepanitiaan. Pada kongres berikutnya Remmy hadir sebagai peserta kongres.

Remmy juga sering diundang sebagai narasumber pada berbagai kegiatan sastra dan juri pada berbagai ajang kompetisi sastra, terutama untuk para penulis pemula.

Remmy juga banyak membimbing penulis pemula serta menjadi editor untuk sejumlah buku, antara lain buku “Harimau Betina” karya Soetan Radjo Pamoentjak yang berhasil terpilih sebagai salah satu emerging writer pada Ubud Writers and Readers Festival 2017 di Ubud, Bali.

Saat ini, Remmy mengelola sekaligus pemilik penerbit Teras Budaya yang menerbitkan buku-buku sastra secara indie.