Irawan Sandhya Wiraatmaja

56440_1474488140789_1926319_oLahir tanggal 21 Juni di Jakarta. Pendidikan Doktor (S3) diselesaikan di Universitas Indonesia.

Korrie Layun Rampan memasukan penyair ini ke dalam Angkatan 2000. Menulis sastra sejak di bangku sekolah menengah atas.

Karya pertamanya dimuat di Merdeka Minggu (alm) tahun 1976. Tahun 1977 ketika masih di sekolah menengah atas puisinya dimuat di majalah sastra Horison. Menulis sastra, kebanyakan puisi dan pernah menulis cerita pendek (cerpen), esei sastra dan artikel sosial politik dan ekonomi.

Pernah memenangkan sayembara penulisan puisi tingkat nasional tahun 1981 dan 1982 dan cerpen tahun 1983.

Karya-karyanya telah dimuat di berbagai surat kabar dan majalah terbitan Jakarta, Bandung, Banjarmasin dan Yogyakarta, seperti Suara Karya, Suara Karya Minggu, Berita Buana dan Buana Minggu (alm), Prioritas (alm), Harian Merdeka dan Merdeka Minggu (alm), Rakyat Merdeka, Harian Pelita, Harian Terbit, Sinar Harapan, Suara Pembaruan dan Suara Pembaruan Minggu, Republika, Jurnal Nasional (alm), Pikiran Rakyat, Indo Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Majalah Panji Masyarakat, Zaman, Hai, Gadis, Wahyu (alm), Horison dan Basis.

Tahun 1981 ikut dalam Forum Penyair Jakarta dan tahun 1983 tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam Forum Puisi Indonesia ’83. Pada tahun 1984 ikut serta dalam Forum Kritikus dan Sastrawan Indonesia.

Sajak-sajaknya terkumpul dalam antologi bersama Sketsa Sastra Indonesia, Pendopo, Forum Penyair Muda Jakarta, Puisi Indonesia (1997), Angkatan 2000 (Gramedia, 2000), Palagan Sastra (2016), Antologi Puisi Matahari Cinta Samudera Kata (Hari Puisi 2016), Kopi Penyair Dunia (2016), Rumahku Jalan-Jalan Macet (2017), Cimanuk, Di mana Burung-Burung Kini Telah Pergi (2016), Lelaki Bercelana Kulot di Sebuah Pesta Pernikahan (Oase, 2017), Sejuta Suara Yang Anarki Dalam Nadi ( Oase, 2017), Ingatan dan Kenangan ( Sigi Media, 2016), Aku Pulang Ketika Segalanya Pergi (Kaifa, 2017), Penyair Nusantara (SSAN Publisher, 2017), Balada: Tak Akan Habis Dilahap Hari (Genio, 2017), Negeri Di Awan (2017) dan 10 Nominator Kekata Kawindra Award 2016. Pemenang ke 2 Bebuku Publisher (2016) dan Pemenang ke 2 sayembara penulisan puisi Hari Bumi 2017 (Fam Indonesia).

Kumpulan puisi tunggalnya Anggur, Apel dan Pisau Itu (Teras Budaya, 2016), Dan Kota-Kota Pun ( Kosa Kata Kita, 2016), Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu ( Kosa Kata Kita, 2017) dan Air Mata Topeng (Kosa Kata Kita, 2017) serta Serpihan Esei Sastra dan Sosial Politik, Teror Di Antara Dua Ideologi (Kosa Kata Kita, 2016).

Tahun 2014-2016 menjabat sebagai President of Sarbica (Southeast Asian Regional Branch of International Council on Archives).

Walaupun sehari-hari bertugas sebagai pejabat tinggi negara, Kepala Arsip Nasional RI sejak tahun 2014, tidak menghambat Irawan terus berkarya sastra, sesuatu yang dilakoni sejak muda.

Di samping itu pernah juga mengajar di Universitas Indonesia, Universitas Pajajaran, STIA-Lembaga Administrasi Negara, STIE IPWIJA, Universitas Az-Zahra dan STIMA Yaksi, Jakarta.

Saat ini Irawan adalah salah satu admin pada grup Dapur Sastra Jakarta.