Pagi, Matahari, dan Stasiun

(Muhammad Daffa)

Kutunggu kau di depan keramaian. Deret orang berjubel, dan tembok hanya gambaran lelah para pejalan. “Disini, rindu jadi sesuatu yang membuat hatimu gemetar.”
Peluit menjerit di suatu batas pagi, yang kau rasa hanya dada yang semakin sesak. Matahari masih sembunyi, sedang stasiun ini kerap berbohong tentang deru kedatangan.

Dua peminta duduk pada selasar. serasa menggoyah haru di dalam diri. “Begini pagi, matahari terlambat datang, rajin benar mereka mengais mimpi.”

Ternyata, jejakmu tak pernah ada. Tapi namamu menjelma sejumlah cerita
Dalam kepalaku yang berdengung kata-kata.

Lusa nanti, kerinduan pasti menyergap. Tanpa bisa kucegah. Dan di dalam tidurku setengah terjaga, tawamu lepas. Tuntas. “Jangan lagi bercerita tentang hal ini.”
Apa yang mungkin dari yang tak mungkin?

Kau menjawab, dalam mimpi, “doa. Dari doa, kau bisa membuat hal musykil menjadi kenyataan.”

2017