Dari Sesepuh Dapur Sastra Jakarta, Bang Adek Alwi

24937_110883282255486_1855555_nAgar DSJ dan anggotanya tetap seperti selama ini, konsisten dalam mengembangkan diri pun dunia sastra itu sendiri, dengan kata lain, tak terjebak untuk sekadar iseng atau berguyon-guyon bak saya lihat di satu-dua grup sastra lain.

Mengapa begitu? Karena dunia sastra termasuk puisi memang tak dunia sekadar untuk iseng. Buktinya, tak mungkinlah tokoh-tokoh bangsa kita juga menulis sajak/puisi, seperti M Yamin, Bung Hatta, dr Soetomo dan lainnya.

Mereka amat menghargai waktu, amat menghargai hidup, dan jauh dari keisengan. Mereka tulis sajak, tentu karena mengandung sesuatu yang serius/sungguh-sungguh.

Berikut saya tampilkan sajak dr Soetomo (1988-1938), salah seorang pendiri Boedi Oetomo itu, yang juga pendiri Parindra (Partai Indonesia Raya). Puisi ini agaknya dia tulis tahun 1920-an, saat berada di luar negeri, dan termasuk yang diulas Sutan Takdir Alisjahbana dalam bukunya “Kebangkitan Puisi Baru Indonesia” (Dian Rakyat, 1969).

Begini puisi yang dikutip STA dari “Suara Parindra” itu:

TERINGAT TANAH AIR

Nyanyian, suara pencari yang Nyata
Mengetuk pintu alam yang baka
Tetapi… tetapi
Jangan lalui kemasyhuran dan kemewahan
Hiduplah di hadapan Tuhan dan kemanusiaan

Kebaikan dan kejahatan
Yang timbul dari napsu durhaka
Kebaikan serupa itu, jahat
Kejahatan selalu jahat
Kesucian yang di dalam hati
Hamburkan di segenap sanubari

Wahai, anak kita, puteri putra
Putra Ibu Pertiwi Ayah Akasa
Berbuat dan siarkan kemauan Tuhan
Jadikan dia sinar negeri kita
Jadilah mata air sinar dunia

—–

(Adek Alwi, 15 Maret 2015)