Windu Setyaningsih

windu3Windu Setyaningsih (Windset), lahir di Purbalingga, 5 Nopember, saat ini tinggal di desa dan kecamatan Bobotsari – Purbalingga.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Purbalingga, meneruskan sekolah di UNSOED, kemudian melanjutkan di UNJ. Sekarang bekerja mengelola usaha mandiri dan mengajar.

Pengalaman menulis sejak tahun 1979, cerpen pertama dimuat di tabloid Cempaka tahun 1982, beberapa cerpen juga pernah dimuat koran Radar Banyumas, serta berbagai tabloid dan majalah lainnya.

Pernah menulis novel yang diberi judul Meniti Jembatan Pengertian (2000).

Kemudian menulis dan mengikuti berbagai antologi puisi  diantaranya:  Getaran Jiwa (2015), Goyang-Goyang (2016), Madah Malam (2016), Menyemat Harap Menuai Hormat (2016), Membaca Kartini (2016), Gerhana (2016), Keluh Senja Mengejar Cakrawala (2016), Tifa 3 (2016), beberapa puisi dalam Memo Penyair, antologi PMK, MAT, MAKTA (2016), kemudian antologi puisi Klungkung Tanah Tua (2016), Patala (2016), Jogya Dalam Puisi (2016), Narkoba (2016), Seberkas Cinta (2016), Perempuan Mengasah Kata (2017), Perempuan Pemburu Cahaya (2017), PMK Kepala daerah (2017), Teras Puisi (2016), Geguritan Wanodya (2017), beberapa Antologi bersama yang telah tercatat antara lain, Menderas Sampai Siak (2017), serta Jendela Pekalongan yang dalam waktu dekat akan segera diterbitkan.

Selanjutnya sebuah antologi puisi tunggal, yang ditulis dalam puisi/prosa liris berjudul TWILIGHT TO NIGHT yang menuliskan perjalanan kisah kehidupan dalam waktu sesingkat senja hingga malam. Buku ini mendapatkan penghargaan sebagai pemenang pada Lomba Buku Dapur Sastra Jakarta 2017.

Karya cerpen diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen, SSI 2016 judul Perempuan Bukit Sambeng.