Sri Wuryaningsih

Wuryanti Tri Wahyuni atau orang orang lebih mengenalnya dengan panggilan Yuyun adalah anak ke tiga dari pasangan suami istri Siti aminah dan Eddy soekiyat yang lahir pada tanggal 16 mei 1976.

Masa kecilnya dihabiskan bersama tiga saudaranya di kaki gunung Sindoro Sumbing di daerah pegunungan yang sejuk di Wonosobo Jawa Tengah.

Darah Jawa yang mengalir dalam dirinya membuat sosok wanita ini tetap bersahaja dan sgt menjunjung norma norma adat Jawa.

Wanita yang selalu mengenakan hijab syar’i ini memiliki motto “Man Jadda Wajada” dalam hidupnya yang artinya barang siapa yang bersungguh sungguh pasti akan berhasil. Maka dari itu dia selalu belajar dan berusaha menjadi yang terbaik dalam segala hal. Dari kecil cita citanya jadi penulis sekaligus desainer. Dia berusaha mewujudkan kedua mimpinya.

Setelah menyelesaikan studinya di UNS jurusan Sastra Indonesia dalam jangka waktu 3.5 tahun lulusan tercepat di angkatannya angkatan ’95, dia hijrah ke Jakarta dan mengambil sekolah di Sekolah Mode Didi Budihardjo untuk memperdalam kemampuannya merancang.

Pengalaman di bidang perkantoran juga pernah dijalani sebagai pegawai di bank HSBC. Namun dia memutuskan untuk fokus mengasuh ke tiga buah hatinya dan berwiraswasta dengan mengembangkan bisnis butik onlinenya yang diberi label ‘DeCulture’

Wanita yang juga punya hobby traveling ke berbagai tempat wisata baik dalam dan luar negri ini juga kerap memanfaatkan waktu waktu luangnya untuk menulis. Hasrat hati sebagai penulis tetap bergejolak sehingga dia selalu menuangkan isi hati dalam goresan pena, membuat satu karya puisi, esai, cerpen atau apapun yang ada dalam benaknya.

Beberapa puisinya pernah di cetak di harian koran Medan dan sekarang mayoritas puisinya bertebaran di grup Dapur Sastra Jakarta dan juga di beberapa grup lain. Dia memakai nama samaran Sri Wuryaningsih, nama ibunya yang tidak jadi dipakai karena kepercayaan orang tua jaman dulu harus berganti nama karena sakit sakitan. Dia memakai nama itu sebagai bentuk penghargaan pada ibunya.

Kini puisi-puisinya terhimpun dalam antologi bersama, yaitu: Cinta Mengubah Segalanya (2013), Jalan Pulang (2013), Mendekap langit (2014), Cinta Selaksa Makna (2014), Simponi Pagi (Pustaka Kata, 2017), Gugus Waktu (2017), serta Ayah Bangsa (Rosebook, 2017).