Perempuan-Perempuan Kayu

(Erna Winarsih Wiyono)

Dalam langkah yang menjanjikan harap di tanah penantian,kami bergerak untuk suatu pembaharuan,beting-beting yang lahir dari filosofi merunduk untuk hari yang panjang. Matahari tidak berhenti untuk menuliskan jejak para perempuan perempuan kayu. Menari di tengah kritisnya suasana hati dengan tempe bongkrek yang sudah kebal di lidah ini,serumpun ilalang untuk jam yang tak berhenti untuk berputar,semua berawal dari mimpi ketika pengorbanan digulirkan. Aksara yang menari di antara pelangi pagi juga senja,menenggelamkan berkas lirih dalam hutan yang kami sebut; Tanah tundra yang merindukan tetes demi tetes embun, Kami hidup dari arti halal untuk restu yang tak lagi ragu, gelap itu sirna.

Perempuan perempuan kayu
Perempuan perempuan kayu
Perempuan perempuan kayu
Melintasi perbatasan untuk mewujudkan hari lebih terang daripada sebelumnya
Perempuan perempuan kayu
Kami tak hidup dari mengemis pada adam
Perempuan perempuan kayu
Melafalkan senja di larik bening sungai kehidupan
Perempuan perempuan kayu
Lahir dari musik rahim yang tak ingin dijajah
Perempuan perempuan kayu
Jiwa kami merdeka!

Jakarta, April 2018.