Garam di Matanya

(Neni Yulianti)

Ia menumbuk garam di matanya
di sudut dapur menggenggam sekepul asap
lalu diluruhkan sejuta bunga api yang lindap
rumput liar pun terbakar
dan daun kaca pun bergetar
Ia melihat dari dua sisi
tentang matahari yang tercelup
atau sekumpulan diorama bercengkerama
pada lontaran usang
ini hanyalah angin yang berderit
sekedar lolongan di bawah langit
Ia mengunyah mimpi dengan aroma legam di tubuhnya
Kini, pisau waktu lamat-lamat mengiris hari
dengan ranah tak bernada
Ya, di balik pintu itu
Ia tetap menumbuk garam di matanya.

(Cirebon, 31 Maret 2018)