Poliponi

(Conie Sema)

APLIKASI metaforik dari istilah poliponi — presentasi beriringan dari dua suara atau lebih, pada sastra, sering membuat sebuah cerita (novel) tak pernah selesai. Keterceraiberaian itu dapat diatasi jika kita tidak terlalu berpatokan tematik dasarnya. Alur narasi relatif masih memiliki kebebasan meski menemui banyak karakter dengan kisah-kisahnya sendiri. Seperti Cervantes menceritakan perjalanan Don Quixote.

Suatu ketika seorang kawan menulis kembali biografi Brutus. ia mengambil karakter dan kisah baru, secara metaforik hendak membangun imajinasi “lain” dari jalur penceritaan Julius Caesar-nya Shakespeare. Ia memindahkan Brutus ke sebuah plantation kebun industri. Ia yakin akan menemukan jalan baru penyusunan narasi dengan memainkan poliponi.

Dari tema utama, “Kebun Brutus”, ia mencoba menyusun tiga alur yang berkembang secara bersamaan. Ia ingin keluar dari frame sebuah kerja sastra yang linear. Masing-masing menjadi cerita yang berdiri sendiri. Alur pertama tentang konspirasi Brutus membunuh dan menjatuhkan kekuasaan Julius Caesar. Alur kedua, metamorfosis Brutus setelah mengungsi ke Kreta (sebuah pulau).

Setelah menggambarkan gerakan peristiwa masa lalunya, lelaki bernama Brutus itu lalu mengungsi ke Kreta. Di sana dia melahirkan jutaan Brutus yang disebar ke seluruh planet bumi. Mereka bermetamorfosis menjadi alat produksi. Mereka menjadi kebun. Merebut bentang alam. Menanam jutaan pohon Brutus.

Alur ketiga, ia coba mempersonifikasikan sosok Brutus sebagai “penghianat” dalam konteks aktual sebuah kesatuan negara dan ruang sosial masyarakat. Ia membangun konstruksi teks antara kebun dan kelompok revolusioner. Mereka cetak ribuan Brutus bergerak ke seluruh ruang kehidupan manusia, termasuk wilayah politik. Dari kebun para Brutus mengatur kekuasaan. Et tu, Brute? Dan kamu, Brutus. Ia ingin memainkan ritme-ritme cepat dengan komposisi irama yang beragam.

Tetapi apa yang terjadi? Ia mendapatkan alur yang kacau, tidak simultan, dan masing-masing saling mendominasi. Aplikasi metaforiknya dari poliponiknya terceraiberai. Tak ada diksi dan beat serta tempo yang menjaga dan bisa mempertemukan ketiga alur yang dibuatnya.

Ia gagal mendapatkan harmoni suara. Gagal mengorkestratifkan ketiga alur itu. Seperti Bach dan Chopin. Harusnya tak ada suara yang dominan. “Memang, satu dari prinsip-prinsip fundamental pengarang-pengarang poliponik terbesar adalah keseimbangan suara,” kata Milan Kundera. Dalam novelnya, The book of Laughter and Forgetting, Kundera mengatakan poliponi novel itu lebih sebagai puisi ketimbang teknik.

Mungkin terlalu mengada-ada jika sastra dikait-kaitkan dengan musik. Pada awal menulis novel dan esai, secara tidak sadar, saya memainkan tempo dan irama narasi yang sangat dipengaruhi oleh kecenderungan pilihan musik yang sangat saya sukai. Saya suka, musik-musik progresif, salah satunya Dream Theater. Pada kelompok musik ini, semua genre musik mereka mainkan, mulai klasik, rock, blues, jazz, balada, R & B, bahkan pop pun mereka lebur menjadi satu kesatuan yang harmoni. Dan asiknya, tetap memiliki hentakan beat atau diksi-diksi yang khas dan berkaraker kuat.

Kesukaan itu, akhirnya menjadi pilihan diksi saya menulis novel juga puisi. Nah, apakah saya menjadi poliponik? Hahaha…mungkin Anda-anda semua, tanpa disadari, juga bermain diksi-diksi musik dalam puisi, cerpen, novel, teater, atau esai? Dan tentu kita setuju, meski alur cerita lebih dari dua alur atau suara, tetapi tidak terceraiberai. Tetap menyatu dan harmonis. Lebih penting lagi, memiliki karakter yang khas. ***