Sugianto Wibowo

Lahir pada 08 Febuari 1978 di Rantau Prapat dengan nama Sugianto Wibowo tetapi tercatat di akta kelahiran hanya Sugianto dan menggunakan nama pena Sigondrong Dalam Diam dalam dunia sastra.

Saat ini beliau pemilik Perpustakaan Astana Airmata yang didirikan pertama kali di atas parit di pinggir jalan di antara simpang dan juga yang berdampingan dengan kios kecil milik isterinya Nur Shabrina boru Hombing yang nama lahirnya Lince Kissa Huncanna Boru Hombing.

Sekarang memiliki tiga putri dan satu putra yakni Pasevendri Kissa Sugi Putri. Arif Genta Buana Sugi Putra. serta Nabilla Arsy Sugi Putri dan terakhir Yola Tiurmaida Sugi Putri. Seharusnya ada satu lagi putri yakni Panca Prasetia Sugi Putri namun Tuhan memanggilnya pada usia tujuh hari.

Memiliki cita-cita tak muluk-muluk. Setiap kali ditanya orang mengenai aktivitas di dunia sastra selain ingin menjauhkan generasi muda dari kejahatan dini dan penyalahgunaan narkoba. Sugianto ingin menjadikan Labuhan Batu kota kelahirannya sebagai kota sastra. Terkadang Sugianto selalu menjadi bahan tertawaan jika banyak pihak mendengarkan jawabannya itu namun ditanggapi dengan santai aja

Tetapi soal semangat dan cita-cita, Sugianto tak pernah surut, seperti pesan yang selalu disampaikan kepada anak-anaknya, “Nak, Papa aja yang tua ini masih mau bekarya masa kalian kalah sama Papa?”.

Sugianto aktif di Dewan Kesenian Labuhan Batu DKLB dan saat ini menjabat Ketua Komite Sastra.

Lalu di Ormas Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) sebagai Seketaris Daerah Labuhan Batu. Demikian juga di Ormas Masyarakat Pancasila Indonesia sebagai ketua komite Pemuda,Agama dan Seni Kabupaten Labuhan Batu. Kemudian di Persatuan Perjuangan Buruh Merdeka, Sugianto menjabat sebagai wakil ketua dua.

Banyak organisasi maupun komunitas yang diikuti oleh Sugianto. Dia adalah pribadi yang suka sekali berserikat berkumpul. Dia mulai berserikat  dari PRD dan Serikat Tani Nasional maupun Jaringan Kesenian Rakyat. Setelah itu bergabung dengan Generasi Peduli Rakyat (Gempur) di mana itu adalah organisasi satu-satunya yang berdiri di kota tempat tinggalnya,  dan menjabat wakil ketua Departemen Seni dan Budaya.

Lalu pun ikut berpolitik dengan menjadi anggota Partai Nasional Indonesia Marhaen sebagai Wakil Ketua Kabupaten, lalu hengkang ke Partai Peduli Rakyat Nasional atau PPRN. Nah di partai ini Sugianto mencalonkan diri sebagai DPRD tingkat 1 Provinsi Sumatra Utara tahun 2009 namun kalah bin gagal. Tetapi dia puas setidaknya sudah pernah mencoba.

Sugianto tak bisa dipisahkan dari dunia seni. Seni adalah bagian dari hidupnya. Dia memulai aktivitas seni dari seni rupa yakni sejak pertama kali pandai memegang pensil (coba bayangkan kira-kira kapan itu?). Sejak itulah dia menyukai coret-coret dengan pinsil alias menggambar selama lebih dari 20 tahun.

Namun kota kecil kelahirannya sepertinya belum dapat menerima itu sebagai sebuah pekerjaan yang menjanjikan, lalu dia pun pun banting setir dari dunia cat ke dunia kayu (ini ceritanya setelah merantau tahun 2000) namun terhalang illegal logging.

Dari Riau, Sipaku sampai ke Tamiang Aceh, perjalanan Sugianto akhirnya kembali ke kampung halamannya setelah enam tahun lebih di daerah Ujung Tanjung Kabupaten Rokan Hilir Riau menjadi gelandangan di kampung sendiri selama setahun. Lalu dengan semangat habis gagal mencaleg didirikanlah kios kecil yang diberi nama Astana Airmata tiap kali dalam puisinya.

Bagi Sugianto, puisi adalah napas hidup kini. Mungkin kerana di zaman yang super canggih ini hanya bermodalkan paket data ataupun numpang wifi tetangga dia dapat menuliskan puisi di dunia maya seperti media sosial Facebook, tak seperti melukis yang harus membeli alat-alatnya lagi.

Apa yang ada di kepala dan hatimu adalah puisi,maka tuliskanlah walau sebaris.

Sigondrong Dalam Diam
Salam Melangit Mimpi

Satu pemikiran pada “Sugianto Wibowo

Komentar ditutup.