Sketsa Sebuah Taman

(Conie Sema)

mengapa masih menggigil setelah pohon mulai berbunga. matahari terang menatap tanah. mengelupaskan tepi-tepi salju. hanya angin lembab memagari musim. tak membuat kejutan bagi cerita kau kirim setiap sore. di lesehan ueno park. di rerimbun bunga-bunga putih. seperti kanvas bercoret lengkungan matahari dan restorasi Meiji yang lama dilupakan.

di atas lantai taman beralas plastik biru. kita kembali mengarang puisi-puisi mengisi pojok taman itu. begitu romantis katamu, dalam lembab mereguk sake dan buah-buah bulat dalam toples plastik dipenuhi emoji sang kaisar. “itu istana yang sepi,” katamu menunjuk ke barat. ia selalu begitu selepas salju pergi, katamu. menulis surat-surat cinta. berlembar-lembar. lalu meremuknya ke dalam toples itu.

tak ada kejutan. setiap tahun hanya menutup dan membuka toples. mengumpulkan pujangga haiku, pantun, dan surat-surat puitis. merias wajah alam setiap musim semi tiba. membuat album kenangan. “oh salju-salju yang berlalu, mantel tua menggantung di ruang perapian.”

mengapa kau masih menggigil seperti bergumul salju. bumi berkilau perak. rerimbun cherry blossom menggradasi putih, kuning muda, hijau dan merah muda. kegelisahan apa kau bawa. melepas bunga-bunga salju minggu lalu. ketika orang-orang berseragam rapi, bermunculan di taman. mereka datang dari kamar sesak di menara pencakar langit. sebelah istana kaisar.

(Ueno Park-Kemiling, April 2018)