Catatan Hijrah, Jalan Menuju Pulang: Sebuah Epilog

(Yeni Roja Mutadho)

Sebuah epilog untuk buku antologi puisi “Catatan Hijrah, Jalan Menuju Pulang” karya Maya Azeezah.

Sesungguhnya agama, keimanan, atau keyakinan bukanlah warisan dari orang tua melainkan sesuatu yang menjadi pondasi dan pedoman dalam menjalani hidup. Ketika keyakinan dianggap sebagai dogma yang berasal dari warisan orang tua makan kehampaan-kehampaan dan keadaan ingin menghujat ketidakadilan yang dirasakan ketika doa-doa belum dikabulkan memungkinkan terjadi karena pemahaman akan nilai-nilai agama dan ketaatan beragama tidak dalam pondasi yang kuat dan belum adanya kesadaran tertinggi terhadap kebutuhan beragama. Dari situ, manusia sering kali berlari dari keyakinannya meninggalkan ajaran-ajaran agamanya untuk menjalani hidup bebas tanpa aturan agama.

Maya Azeezah adalah nama pena dari Maya Damayanti yang terlahir pada 30 April 1972 di Jakarta. Ia mulai menulis puisi sejak duduk di bangku SMP untuk dipasang di Mading. Selanjutnya memulai berkesenian bersama almarhum suaminya Eka Surya Saputra pada tahun 2009. Maya mempelajari monolog di Yogyakarta kemudian menyusun naskah dalam seni peran, menjadi sutradara dan juga pemain dalam karya-karyanya di antaranya adalah Selamatkan Ibu Pertiwi, Hitam Putih, Pulanglah, istana Pasir, Bunda Laksmi, Emergency Room, Ibu Selamatkan Negeri, Perempuan dalam Gerbong, dan Pulanglah Ayah. Sementara naskah drama yang telah dia bukukan adalah Perempuan dalam gerbong. Selain produktif menulis, menyutradarai, dan bermain peran dalam teater, Maya juga aktif menulis puisi yang tergabung dalam antologi puisi tunggalnya dan beberapa antologi puisi bersama, yaitu Kartini Masih di Situkah Kau, Mey Wulan, Membaca Kartini, Antologi Puisi Yogya dalam Napasku, Kasih Ibu, Antologi Puisi Bersama 66 PenyairTeras Puisi. Antologi puisi tunggalnya antara lain Mengenal dan Mengenang, Catatan Kehilangan, dan Risalah Cinta.

Membaca antologi puisi ini mampu menghanyutkan kita akan rindu, cinta, syukur, keikhlasan berterima pada setiap keadaan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Maya membawa kita terlarut dalam alunan emosi kecintaan dan pertaubatan yang mengetuk-ngetuk nurani kita untuk semakin dekat dan kembali lebih cinta, lebih berbaik sangka kepada ketentuan Tuhan, dan lebih meningkatkan lagi kuantitas dan atau kualitas beribadah, serta menikmati indahnya berbagi/shodaqoh.

Maya menuliskan kerinduan dan kecintaanya pada Tuhannya dengan bahasa yang sederhana namun begitu terasa keindahan dan kesyahduannya. Bahasa-bahasa sederhana namun mudah dipahami dan sarat makna. Tidak banyak Maya menggunakan metafor ke dalam puisi-puisinya namun justru dengan ungkapan-ungkapan apa adanya, penggunaan diksi sederhana ini mengungkapkan kejujuran hatinya telah terbuka untuk memenuhi panggilan kewajiban sebagai seorang muslim dan berhijrah dari masa-masa kejahiliyahan menuju masa-masa dalam ketaatan dengan sepenuh hati menjalankan kewajiban beraganmanya.

Gejolak kerinduan Maya terhadap Tuhan bermula pada awal ramadhan. Berangkat dari rasa rindu yang dalam pada sang pencipta Allah Swt., yang telah sekian lama penulis sempat meragukan siapa sang Maha bagi dirinya, setelah 45 tahun perjalanan hidup tak menemukan apa-apa, meski kerja keras sekeras kehidupan yang dilaluinya. Bukan karena datangnya bulan ramadhan, bukan pula karena merasa berkurangnya usia, entah rindu yang dalam dan kesadaran yang sangat besar sebagai hambaNya dia ingin menjalani dan mendapatkan keridhoan Allah Swt dalam perjalanan jasmani serta keruhaniaannya. Rasa rindu yang syahdu inilah yang menggerakkan Maya untuk konsisten dan dan berkomitmen untuk mengisi tiap-tiap titik ramadhan dengan memuisikan kerinduan dan pencariannya kembali pulang, pulang pada kesejatian beragama yang bukan sekedar identitas namun menggerakkan seluruh hati dan langkah hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah Swt. semata.

Nuansa di dalam puisi-puisi sebelumnya, yaitu Mengenal dan Mengenang adalah tentang kecintaan penyair terhadap kegiatan menulis, cinta, kenangan, dan cita-cita hidup di antara karya di dalamnya adalah Mengenal dan Mengenang, Istana Pasir, dan 5 Bintang Laut di Samalona. Di dalam antologi ke dua Catatan Kehilangan tergambar adanya rasa kehilangan Maya terhadap orang yang sangat dicintainya , yaitu Ayah sebagai sosok pemberi cahaya di dalam hidupnya juga terdapat bahkan juga kehilangan momen, di dalamnya juga terdapat penggambaran kerasnya perjuangan perempuan yang mencoba mendobrak peradaban. Pada antologi ke-3 Risalah Cinta jelas tergambar Maya lebih banyak mengungkapkan tentang pemujaannta terhadap cinta. Cita yang begitu menjerat, cinta yang begitu magis, cinta terhadap lelaki kekasih hati, cinta terhadap cita-cita dan keinginan.

Ada nuansa yang berbeda dari 77 judul puisi pada antologi Menuju Jalan Pulang ini dengan antologi puisinya sebelumnya. Di dalam antologi ini diawali dengan kerinduan Maya yang syahdu terhadap Tuhan hal ini tertuang ke dalam puisinya berjudul Aku Rindu. Di dalam puisi ini Maya hanya menuliskan dua larik ke dalam puisinya, yaitu // Aku sudah rindu// Bagaimana denganmu// kalimat-kalimat sederhana ini begitu padat untuk mewakili segenap kerinduan Maya terhadap Tuhannya. Kekuatan rindu yang tak mampu diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang panjang, perasaanya rindu yang membuatnya tak sanggup lagi berkata-kata kecuali kata rindu, rindu yang sudah dia rasakan saat ini.

Sebuah rasa yang berbeda dan begitu istimewa dia temukan di saat-saat mengais hari-hari awal hingga sisa-sisa ramadhan. Arah Mata Kompas adalah salah satu puisi di awal ramadhan sebagai tonggak awal ditancapkannya keteguhan keimanannya, menetapnya arah hidup Maya sebagai seoarang muslim yang hendak memegang teguh ajaran agamanya, menjalankan perintah dan larangan-Nya.

Pada puisi berikutnya Pada Hamparan Sujudku, tergambar jelas bahwa setiap hari bagi Maya memberikan debar-debar kecintaannya tumbuh pada Tuhannya juga pada agamanya sehingga menumbuhkan keikhlasan dan kekuatan untuk menjadikan Islam dan Allah sebagai napas hidupnya menjadi puisi baginya untuk menuju ke jalan kebenaran. Ungkapan penuh syukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan juga sesal terhadap hari-hari yang telah terlewati sepanjang perjalanan hidup yang begitu jauh dari nilai-nilai ibadah mewarnai penuh dalam puisi-puisinya di sini.

Semakin ke tengah ramadhan Maya semakin menikmati keindahan berkholwat dengan Tuhannya semakin menikmati hidup dengan penuh syukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan untuknya. Semua itu terangkum di dalam puisi-puisinya di sini Malam menuju Fajar, Surat Si Tukang Semir, Jelang di Tengah Malam, Sejumput Doa Sederhana, Dzikirmu Adalah Cerita, Tinggalkan, Kafa, Demi Masa,Kembang Api dan Purnama, Sekalipun Tersembunyi dalam Bisikan hati, dan masih banyak lagi. Maya juga menggunakan huruf-huruf hijaiyah sebagai judul dan isi puisinya dengan kandungan makna yang dia tulis dari tiap-tiap huruf hijaiyah dengan sangat unik dan penuh makna, di antaranya yaitu Ba’, Ta’, Tsa, Jim, Kha’ di Genangan Malam, Mengingat Dal dan Hari Akhir, Beratnya Ra’ untuk Kutiru, Apa Tanda-Tanda yang Kau Dapatkan, Qof, dan Dialah Tempat Berharap.