Mei

(Marina Novianti)

: sebuah lamentum

mei, aku tak bisa tidur.
di antara mereka, napasku sesak.
udara pengap keringat,
darah peluh sendiri. bercampur cairan mereka,
para monster.

mei, aku masih terjebak duka.
entah sampai kapan. kebenaran tak pernah ada.
keadilan fiksi semata. amarah. layakkah?
sebab cinta tinggal nama.

mei. nasib sial manusia! mengapa dilahirkan?
mengapa tertinggal hidup setelahnya?
adakah udara pernah bersahabat?
mengapa pengap menetap di dada?

mei, parau jeritan
mencabikcabik kewarasan.
merogohrogoh kehormatan.
menelanjangi kemanusiaan.

MN, Mei 2018