Renjana

(Wendy Fermana)

Setelah memacu bebek butut yang kau benci sekaligus kau sayangi sejauh sembilan kilometer ke satu-satunya warnet yang bisa kau temukan di ibu kota kabupaten untuk membuka akun pos-el demi menuntaskan pertanyaan ibumu, kau tak langsung pulang. Usai membayar—kau tertegun sebentar saat mendapati di dompetmu hanya tersisa beberapa lembar uang lima ribu dan seribu perak yang lusuh—biaya rental komputer berfasilitas internet dan mencetak hasil pengumuman dan surat-surat serta membeli sebuah amplop dokumen berwarna cokelat, kau berkeliling dengan motor bebekmu. Jalan raya beraspal yang melingkari kota itu kau susuri perlahan dengan perasaan yang hampa. Tiap kali sampai di titik pertama memulai perjalanan menjelajahi jalan lingkar itu, kau terus melontarkan pertanyaan yang sama yang terus-menerus tak sanggup kau jawab sendiri hingga jalan itu telah kau putari enam kali. Pada putaran ketujuh kau berhenti untuk kemudian membiarkan dirimu tertawa. Tertawa yang puas hingga berderai-derai air mata. Menyadari betapa saat kau ingin sekali marah, ketika kau ingin mengutuk-ngutuk ibu dan keluargamu, dan bahkan Sang Pencipta kalau perlu, sampai puas, kau justru menjalankan laku marah itu serupa ibadah, mengelilingi jalanan kota tujuh kali serupa jumlah tawaf kakbah.

Mulanya kau berniat pulang, tetapi kau tidak ingin menjadikan putaran ini hanya tujuh kali. Kau ingin menghancurkan bilangan tujuh itu. Kau akan berputar lagi dan setelahnya mungkin akan menuju ke suatu tempat untuk berehat. Kembali kau pacu sepeda motormu. Ke arah utara kota, jalan yang kau tempuh melewati arena pusat olahraga. Ketika SMA dulu, kau sering mengajak Maharani jalan ke stadion sepak bola itu. Kau ajukan ajakan maraton pagi atau jalan sore atau aerobik massal atau sekadar cari angin sebagai kemungkinan untuk membujuknya agar mau jalan berdua bersamamu. Melewati kembali gedung olahraga yang kini sebagian atapnya telah ambruk dan tiang-tiang beton hampir roboh itu membuat perasaanmu jeri, betapa yang kukuh akan telimpuh karena digerogoti waktu. Bayang-bayang masa lalu itu macam hantu, tak tampak, tapi mencengkeram kuat. Memori berlintasan, datang dan pergi, membuatmu berusaha mengingat-ingat, berapa kali kau berhasil bercumbu dengan Maharani di sana. Kau sendiri saat itu was-was dan takut andaikata Maharani menolak, lalu mendampratmu, dan menjerit-jerit pada orang-orang. Kau agak lupa bagaimana kau bisa menggiring Maharani melakukannya dengan tenang. Namun, sepertinya begini, awalnya kau melontarkan tema obrolan tentang alam semesta, membagikan pengetahuanmu mengenai berbagai benda antariksa—menurutmu itu mungkin yang membuatnya agak terpukau—dan membicarakan kemungkinan-kemungkinan soal kehidupan lain di angkasa luar, lalu semuanya terjadi begitu saja. Yang sangat kau ingat adalah kecanggungan dan penyesalan luar biasa setelahnya.

Jalan hari itu cukup lengang. Seperti refleks saja, atau mungkin takdir yang memang telah digariskan, kau melalui jalanan yang sangat akrab dalam sejarah hidupmu: jalan rumahmu dulu, sebelum akhirnya kau dan ibumu menyingkir dari sana. Waktu baru-baru meninggalkan rumah itu, ketika kau tak bisa menahan murkamu yang meradang, sering kau bertolak ke sana dan melempari rumah itu dengan sekantong kresek telur pecah yang kau beli murah atau tomat-tomat busuk yang kau pungut dari bak sampah di pasar. Kini, kau dapati rumah itu tak lagi terurus: tembok pagarnya berlumut, dindingnya kusam dengan jendela kaca yang pecah dan perabot yang mungkin tak sempat diangkut atau sengaja dibiarkan teronggok dengan posisi terguling di teras, macam rumah latar film horor. Dulu kalau kau sedang tak ada uang untuk melempari telur dan sial karena tak menemukan tomat busuk, kau lumayan sering mengencingi pagar rumah itu lalu kabur. Kau terpikir untuk menyemburkan kembali air kencing ke sana, tetapi kau menarik ke atas ritsleting celanamu yang telah terbuka. Kau memang masih berang, tetapi buat apa, tidak ada siapa-siapa lagi di dalam sana. Kau mengengkol sepeda motormu.

Sepanjang jalan kau menghitung sekian pohon yang telah lenyap. Kau tak ingat utuh jumlahnya dahulu; kau sekadar mengira-ngira dengan mengais-ngais ingatan tentang cerita-cerita horor yang pernah dituturkan kerabat atau kawanmu: di pohon beringin di depan sekolah itu ada hantu perempuan yang gentayangan mencari tas sekolahnya yang hilang, di pohon bodhi atau barangkali pohon beringin di depan kantor polisi ada hantu kompeni yang kerap terdengar meringkik macam kuda, di pohon beringin kurung atau mungkin pohon gayam dekat pasar ada hantu yang gemar menyapu-nyapu tengah malam, di pohon banyan atau barangkali pohon bodhi atau barangkali pohon beringin di lapangan markas tentara ada setan merah tanpa kepala, di pohon kayu ara atau mungkin pohon bodhi atau pohon apalah itu di depan rumah sakit milik yayasan pastoran ada hantu anak kecil yang selalu menangis dan sekali waktu iseng menampakkan diri dan mengganggu satpam yang berjaga atau pengemudi yang melintas. Kau memang tak ambil pusing dengan nasib pohon bodhi atau mungkin pohon ara atau barangkali pohon banyan atau mungkin juga pohon gayam, ah apalah itu, yang jelas bentuk semua pohon itu serupa pohon beringin. Apalagi dengan sejumlah cerita keangkeran yang menyertai, biarlah hantu-hantu itu kabur entah ke mana. Akan tetapi, kau masih saja terkesiap, pohon-pohon peneduh yang telah puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun tumbuh sudah ditumbangkan dari seluruh penjuru kota, hanya dalam hitungan tujuh tahun sejak kau tinggalkan kota ini.

Kau pernah punya angan-angan untuk kembali dengan sesuatu yang membanggakan, yang bisa membuat orang-orang di rumah itu tecengang dan meratapi borok yang telah mereka buat, sesuatu yang entah apa, sesuatu yang setelah bertahun-tahun seperti tak terwujud, sepertinya tak akan pernah terwujud. Kau kira jalan yang ditunjukkan ibu akan menuntunmu dengan gampang untuk menyongsong kegemilangan masa depan. “Kau harus jadi insinyur juga!” Dengan nilai-nilai di ijazahmu yang mengagumkan, skor ujian masuk perguruan tinggi di atas tuntas, dan raihan prestasi akademik serta ekstrakurikuler selama sekolah yang berderet-deret seperti gerbong kereta api, kau dijamin mendapat beasiswa dan ditanggung segala macam biaya hidup selama menempuh studi di perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa, mulai dari pemondokan hingga uang buku dan uang saku. Namun, semua kemujuran itu tak bertahan lama, tak sampai tiga semester nilaimu sudah hancur lebur. Padahal semester pertama nilaimu nyaris sempurna; di kartu hasil studi hanya satu nilai B yang tertera. Semester kedua, memang B-mu masih tetap satu, tapi nilai mata kuliah lain menjadi taburan huruf yang membikinmu mengaduh. Semester ketiga, setelah melihat pengumuman nilai di kampus, kau frustrasi, berteriak-teriak sepanjang jalan pulang menuju rumah indekos dan hampir mengempaskan diri ke sungai dengan terjun dari jembatan. Dengan predikat nasakom, beasiswamu dicabut. Badan mana pula yang rela menanggung mahasiswa dengan indeks prestasi kumulatif nasib satu koma? Semua rincian soal anggaran studimu otomatis beralih pada ibu, yang juga mesti memikul semua ongkos hidupmu selama di perantauan.

Cuaca panas sekali: ketiakmu berkuah; kausmu basah oleh keringat. Kau terlintas untuk mengarahkan sepeda motormu menuju pasar, menemui seorang kawan. Suntuk sekali berkeliling tanpa tujuan jelas dan kepala pusing tujuh keliling karena berpikir keras sendirian; kau perlu teman mengobrol dan seketika kau teringat Rais. Kau ingin mengaku bahwa lebih baik bertahan di kota keparat ini dan mati dengan menyimpan mimpi ketimbang gentayangan ke seluruh penjuru dunia dengan sekian beban di pundak yang mesti ditunaikan, tapi tak kunjung mengerti untuk apa dijalani. Barangkali saat bertukar gagasan dengan Rais, kau dapat merancang rencana lain atau jalan lain yang bisa kau pilih. Siapa tahu kau bisa belajar langsung dari kawanmu yang memilih melanjutkan usaha keluarganya ketimbang menempuh sekolah—sebuah pilihan yang dulu kau cemooh, tapi kini kau pikir brilian. Siapa tahu kau bisa menilik-nilik apa saja yang diperlukan untuk membangun bisnis atau mencari peluang berdagang sesuatu yang menjanjikan dan dapat mendatangkan pundi-pundi uang. Ya, siapa tahu. Namun, kau lupa, tak ada lagi duit di sakumu, tabunganmu lenyap, sudah betul-betul menjadi rudin. Tidak sampai hati membiarkan orang lain jadi macam gembel justru kau yang kini melarat. Ah, atau kau bisa mencoba menemui kakek, menawarkan diri untuk menggembalakan sapi. Dengan begitu, kau tak perlu pusing memikirkan mencari modal usaha. Kendati kau agak cemas apa kata orang-orang. Sementara ibu mungkin akan bersegera menerawang sambil menaksir ijazahmu dan merutuk, “Tujuh tahun sekolah dan yang kau dapatkan hanya tanda tamat palsu!” Lalu ibu akan melungsurkan kertas itu ke tungku. Mungkin pula kau ikut dijungkalkan ke sana. Ah, kau memang perlu teman bicara agar kau tak berpikir yang bukan-bukan.

Namun, kau sadar, ini jam-jam ramai, bukan waktu yang tepat untuk bertandang ke toko Rais. Beberapa kali kau berkunjung pada saat repot seperti sekarang, dengan niat bercakap-cakap, tetapi berujung kecewa lantaran diabaikan. Kau mengonggok di sana, sementara Rais sibuk dengan kalkulator dan meladeni pegawai serta pelanggan yang bertanya ini dan itu mengenai berbagai peralatan elektronik. Kau yang hendak bicara, bukan merenung-renung bak patung sang pemikir, terpaksa mengamati perputaran uang dan pertukaran barang. Dengan perasaan dongkol kau sungguh berharap hantu pohon yang saban malam keranjingan menyapu itu datang lebih cepat agar seisi toko panik dan lekas bubar. Akhirnya, sebelum mati bosan, kau menyelinap dan minggat dari sana. Saat bertemu tempo hari, Rais terkekeh-kekeh sambil mengucapkan permohonan maaf lantaran tak dapat memuliakan tamu dengan layak. Kau mengangkat bahu, “Tamu-tamumu, maksudku pelanggan-pelangganmu itu, lebih pantas didahulukan.” Rais hanya bisa cengar-cengir.

Kau merasa harus mampir ke rumah Maharani, lalu mengajaknya bertamasya. Kau akan memboncengkan Maharani di belakang, mungkin kalian akan pergi ke stadion olahraga, dan sepanjang jalan kau akan bercerita soal perantauanmu atau kau akan membagikan kegundahanmu. Kau sudah selesaikan studi, tapi sungguh tak tahu, apa yang dapat kau lakukan setelah ini. Dunia seperti sebuah pintu yang terbuka, tetapi kau tak kuasa untuk melangkahkan kaki ke mana. Maharani menukas, “Sungguh kah pintu itu terbuka?” Kau menggeleng, memang tak ada yang terbuka, dan kau ingin merengek, tetapi malu. Maharani membentakmu, “Sudah tua!” Kau pun bersungut-sungut, kenapa ketika beranjak tua, orang-orang dewasa tidak boleh menangis. Padahal kau diam-diam kerap menangis, bahkan tak mengenal waktu. Kadangkala ketika asyik berkumpul atau bercakap-cakap akrab dan seru, kau sering mengamati gerakan tangan, posisi tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan mata saat kawan-kawanmu berbicara. Dan tiba-tiba sesuatu membuat gelisah lalu ingin menyingkir dari keramaian. Terbirit-birit kau minta izin menggunakan kamar kecil. Kau masuk ke bilik kakus itu, lekas merapatkan pintu, bersecepat membuka keran besar-besar agar suara curahan air dapat menyamarkan isakanmu. Itu bukan satu dua kali terjadi. Saking seringnya menangis dalam momentum tak tepat, kau agak cemas andaikata orang-orang tahu. Mereka barangkali akan mengolok-olokmu sebagai Lelaki Air Mata dan tanggal lahirmu mereka sebut sebagai sebagai Hari Air Mata Nasional. Gerombolanmu memang suka meledek apa saja. Ya, mau bagaimana lagi kalau tiba-tiba ingin menangis?! Akan tetapi, ibu tak pernah menangis. Hanya saja, saat masa krusial itu terjadi, ibu jadi tak banyak bicara dengan lelaki itu. Ibu memang bukan orang yang banyak bicara, tapi bukan berarti ibu sosok perempuan dengan wajah masam dan selalu merengut. Ia lebih banyak mendengarkan. Namun, kerabatmu bilang, itulah yang membuat lelaki itu berpaling. Lelaki sibuk, tambah kerabatmu itu, suka mengobrol dan perlu teman bicara yang setara. “Rekan kerjanya yang juga insinyur itu mungkin memberikan apa yang ayahmu cari.” Kau mendelik, tersinggung mendengarkan omong kosong itu, seakan jenjang pendidikan adalah masalah terbesar dalam hubungan lelaki itu dan ibu. Kau tak terima, ibumu bukan orang bodoh meski tak sekolah tinggi. “Lelaki itu saja yang tak tahu diuntung!”

“Bagaimana denganmu, Maharani?” tanyamu. Waktu mendengar berita Maharani akan menikah, kau terkaget-kaget. Sepucuk surat undangan itu datang terlalu tergesa-gesa. Meski kalian sudah lama berpisah, kau agak tak rela saat mendapat kabar bahwa sang mempelai lelaki yang akan menyunting Maharani sudah berumur—untuk tak menyebutnya tua bangka. “Kau tidak merebut ….” Kau ingin bertanya, kau ingin tahu, kau ingin sekali mengobrol dengan Maharani. Tapi kau ragu-ragu; kau khawatir Maharani sudah bahagia dengan suaminya dan kehadiranmu yang mendadak di balik pintu rumah Maharani mungkin hanya akan menimbulkan kecanggungan.

Lagi pula kau selalu gundah ketika berhadapan dengan perempuan. Dahulu, pengalaman becumbu dengan Maharani sempat membuatmu agak angkuh dan yakin suatu waktu kau akan melakukan itu pada teman dekatmu yang lain, pada orang-orang yang membuat hatimu tergetar sekaligus tenteram, dengan gampang, hingga kemudian segalanya sudah berlalu bertahun-tahun lampau dan hingga sekarang kau hanya bisa mengenang tanpa pernah sanggup mengulang.

Kepalamu mendadak pengar waktu melalui bekas gedung sekolah dasarmu dulu. “Ah, bangsat!” Tak kuat menahan denyut-denyut saraf di belakang kepala, kau lampiaskan sakit itu dengan mengumpat-umpat. Kau terus menggegaskan motor sambil bersusah payah menjaga keseimbangan tubuh agar tak oleng dan tak ambruk. Kau ingin lekas pergi, tapi bayang-bayang masa lalu itu, yang macam hantu, tak tampak, tak berjejak, terus mencengkeram kuat. Hari itu, hari itu, … tahu-tahu ada yang bergerak-gerak di paha dan lantas berlanjut ke pangkal paha. Kau membelalakkan mata dan mulutmu mendadak menganga. Seseorang merogoh sesuatu di balik celana merah pendekmu. Kau lekas memundurkan kursi, buru-buru berdiri, dan bergerak menjauh. Di kolong meja itu, Boy menyeringai. Kawan sekelasmu yang postur tubuhnya tinggi, besar, dan tegap jauh melampaui semua orang di kelas itu semestinya memang sudah ada di kelas atas, tapi ia tinggal kelas beberapa tahun karena kebandelannya dalam bersikap, kebebalannya setiap belajar dan ujian, serta kebengalannya dalam berperilaku. Beberapa kali, kawan-kawan perempuan di kelasmu terisak-isak karena Boy mengintip dalaman mereka dengan cermin bundar kecil di rautan pensil yang ia selipkan di jalinan tali sepatu, bahkan Boy beberapa kali iseng atau nekat atau cari mati dengan menarik ke atas rok kawanmu, membuat anak perempuan itu menjerit-jerit histeris dan menangis, sementara anak laki-laki terbahak-bahak. Bayang-bayang itu mengganggumu. Ketika itu, kau tak pernah menangis dan tak pernah melaporkan rogohan tangan di pangkal pahamu, yang dilakukan Boy berulang kali. Kau hanya bisa menjauh dan selanjutnya membiarkan dan belakangan menikmati. Namun, setiap kali kau teringat itu, kau tiba-tiba ingin menangis.

Kedatangannya memang macam hantu. Beberapa hari setelah kau pulang dari rantau, Boy menyelinap masuk kamarmu. Perlu uang, katanya. Kau memberikan tabunganmu yang tak seberapa itu seraya menasihatinya untuk berhenti melakukan perbuatan-perbuatan jahanam. Kau paham, tak gampang memberhentikan kebiasaan yang sudah jadi semacam candu yang membikin ketagihan. Lalu ia lenyap bak hantu pula. Lama tak muncul, Boy datang lagi, pekan lalu. Dengan raut muka murung. Kau tahu apa yang ia inginkan. Di dompetmu hanya tersisa enam lembar uang sepuluh ribu rupiah, lima lembar uang lima ribu rupiah, uang seribu rupiah yang nyaris sobek, dan beberapa keping recehan. Kau ikhlaskan seluruh uang sepuluh ribu itu untuk Boy. Ia betul-betul sedang kere sampai tersungkur-sungkur saat berterima kasih. Kau mengulang nasihat itu. Kau yakin ia tak benar-benar mendengarkan perkataanmu sehingga terpaksa menegurnya, “Kalau pun tak bisa langsung berhenti, setidak-tidaknya kau kurangi!” Alih-alih insaf, dua hari berselang kau justru mendapati foto Boy terpampang di halaman berita kriminal Sumatera Ekspres. Kakinya dipelor timah panas saat berusaha melarikan diri dari aksi pencurian yang gagal. Kau mengutuk-ngutuk kelakuannya.

Kau menepikan sepeda motormu di seberang markas kepolisian. Rintik-rintik hujan panas tiba-tiba turun. Tak baik buat kesehatan, kau berteduh di bawah pohon entah apa, yang pasti bukan pohon beringin. Sambil menunggu hujan reda kau iseng bertanya-tanya, ke mana hantu pohon bodhi atau pohon beringin itu mengungsi, dan seketika kau merinding sendiri.

Kau penasaran dengan kabar Maharani sekarang. Maharani mungkin sedang repot menimang-nimang anak mereka yang ketiga. Siapa tahu dan siapa peduli. Kendati kau ingin sekali bertemu dengan dia. Tidak untuk meminta kecupan, hanya ingin mengobrol, mungkin tentang benda-benda angkasa luar atau barangkali tentang hantu-hantu yang mengganggumu. Kau juga ingin tahu nasib Boy di balik terali bui, apakah ia kedinginan. Barangkali ia memerlukan selimut. Kau terpikir untuk membawakan sarung. Namun, kau berpikir ulang, ah, dia hanya datang kalau ada maunya. Kau menimbang-nimbang, mungkin kau memang perlu membawakannya sarung, kalau perlu lengkap dengan sajadah dan peci dan tasbih. Kau girang mendapat ide cemerlang itu. Hanya Rais yang memungkinkan untuk kau jumpai sekarang. Tapi kalau ia masih sibuk mengurus tiga cabang tokonya, kau mesti menunda jika tak mau muak menunggui pekerjaannya tuntas, yang faktanya tak mungkin selesai karena satu demi satu telepon bisnis itu bagai bergantian berdering setiap sekian menit. Atau barangkali kau memang mesti memanggil para hantu pohon untuk masuk ke dalam frekuensi jaringan telepon supaya Rais terguncang dan melepaskan ponsel dari genggaman sehingga kalian bisa bercakap-cakap dengan saling tatap.

Ibumu akan bahagia benar saat membaca dan menemukan namamu di surat pengumuman. Namun, kau akan berusaha menunda untuk memberitahukan kabar bahagia bagi ibumu, tapi bahaya bagimu, itu. Mungkin kau akan selipkan surat itu di sela-sela lemari pakaian tepat di bawah tumpukan kemeja atau di mana saja yang tak akan terjangkau ibu. Setidaknya kau telah berniat akan menyimpan dan merahasikan pengumuman itu selama seminggu ke depan hingga kau benar-benar bisa dengan lega menentukan putusanmu. Atau setidak-tidaknya waktu seminggu bisa kau gunakan untuk mencari-cari, menyiapkan amunisi, mematangkan alasan, dan menghadapi segala kemungkinan gerutu dan rutukan panjang-pendek yang akan disampaikan ibu. Akan tetapi, bagaimana pun kau tak bisa membiarkan ibumu bersedih. Kau tak sampai hati menghancurkan harapan yang sudah dibangunnya dengan mengorbankan segala yang ia punya. Setiap kali kau mengepal tangan dan nekat untuk memberontak, menolak semua nasihat, melawan ucapan dan anjuran, bersikap dingin, dan barangkali menyingkir dari rumah, atau singkatnya meninggalkan semua hal tentang ibu, dengan melupakan dan menghapus ibu, separuh bagian dirimu yang telah begitu yakin itu seketika tumbang dan tak sanggup meronta. Semua rencana itu menguap usai melihat wajah ibu, melihat bekas luka di kening ibu.

Hujan panas itu justru menderas. Kau berjongkok, kelelahan terlalu lama menunggu hujan reda. Saat itu, kau melirik ke motormu yang basah diguyur hujan. Kantong kresek hitam berisi berkas surat-surat itu masih tergantung di sana. Kau menggerundel, bisa-bisanya luput menyelamatkan benda itu. Buru-buru kau bangkit hendak menembus hujan, tetapi silau halilintar diiringi suara menggelegar serta-merta membuatmu gemetar. Kau hanya bisa termangu-mangu memandangi nasib surat-surat itu kini; koyak, hancur, dan mungkin sudah menjadi bubur. Ya, kertas sudah menjadi bubur, kau merasa geli, tapi seketika terkesima. Kau tersadar, terkadang semesta lucu sekali, seperti dirahasiakannya alasan hujan tiba-tiba turun mengguyur sehingga kau menjadi tak tabah untuk tak menyumpahserapahi apa saja dan menganggap semesta sedang bersekutu menghukummu. Namun, kini kau tersenyum-senyum sendiri seraya menatap langit. Barangkali inilah cara semesta, menghapus jejak-jejak ragu di hatimu, mengisyaratkan agar kau tak perlu meninggalkan kota ini lagi.

Kau agak lega lantaran punya bahan untuk berkilah ketika ibu nanti bertanya. Kalau pun besok atau lusa ibu memaksamu untuk memeriksa kembali pengumuman—ke warnet satu-satunya di ibu kota kabupatenmu—biarlah nanti-nanti saja kau tempuh perjalanan sejauh sembilan kilometer itu.

Mesin motor tua itu susah panasnya setelah kuyup oleh hujan. Kau mengengkol bebek bututmu sampai berkali-kali hingga akhirnya menyala. Kau melajukan balik menuju rumah. Tatkala melewati pusat perkantoran pemerintah kabupaten, kau menemukan pohon beringin di depan kantor bupati itu masih tumbuh dengan angkuh. Ingatanmu tak sanggup menjangkau hantu apa yang bersarang di pohon beringin keramat itu.

Palembang, 2017—2018

(Majalah Salo Sadang Edisi II, Januari-April 2018)