Puisi dan Gaungnya

(Riri Satria)

Sambutan pada acara pementasan puisi karya Din Saja “Kepada Yang Terhormat” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 12 Mei 2018.
—-

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Bapak, Ibu, serta Sahabat yang saya muliakan.

Saya diminta oleh Pak Din Saja alias Safruddin Basyar alias Ade Sukma (nama beken beliau sewaktu aktif di Taman Budaya Padang pada tahun 1980an) untuk memberikan sambutan pada acara pementasan puisi karya beliau “Kepada Yang Terhormat” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Terima kasih Pak Din, ini sungguh suatu kehormatan buat saya.

Tetapi di sisi lain saya bingung, mau bicara apa? Saya memberikan sambutan dalam kapasitas sebagai apa? Sebagai penyair terkenal, bukan! Sebagai pengamat puisi, juga bukan! Sebagai akademisi sastra, pasti bukan!

Pak Din hanya mengatakan, sampaikanlah apa yang perlu disampaikan. Semakin bertambah bingung saya.

Tetapi demi memenuhi permintaan sahabat, saya mencoba memotret dari sisi lain, bukan sebagai ahli puisi, tetapi sebagai penyuka atau pencinta puisi.

Baiklah Bapak, Ibu, serta Sahabat semua. Sebagai disclaimer, saya menyampaikan bahwa saya berkecimpung di bidang teknologi informasi dan manajemen. Sama sekali tidak kaitannya dengan puisi atau sastra. Tetapi saya memang suka menulis puisi, tetapi hanya sebatas itu.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Bapak, Ibu dan Sahabat semua untuk merenungkan beberapa hal melalui beberapa pertanyaan. Apakah puisi atau sastra itu hanya sekedar hiburan? Atau dia jauh lebih dahsyat daripada itu? Apakah puisi hanya akan dibaca dan ditonton oleh sesama penyair? Sampai manakah gaung puisi itu?

Puisi adalah bagian dari dunia sastra, dan sastra adalah sesuatu yang besar. Ada hadiah Nobel untuk sastra, sama dengan ilmu Fisika, ilmu Kedokteran, Ilmu Ekonomi, dan sebagainya. Betapa terhormatnya posisi sastra dalam peradaban manusia. Sastra sejajar dengan ilmu pengetahuan atau sains yang membentuk peradaban manusia.

Kita menyaksikan banyak sastrawan yang sanggup menggentarkan rezim pemerintahan di berbagai negara.

Dengan demikian, bukankah puisi atau sastra secara umum harus masuk sampai ke ruang-ruang sosial di masyarakat?

Apakah kumpulan puisi Pak Din Saja yang berjudul “Kepada Yang Terhormat” ini akan berhenti pada dinding pembatas ruang teater ini saja? Sayang sekali jika demikian. Kegelisahan Pak Din dalam berbagai puisi yang disajikan malam ini harus sampai kepada mereka yang dituju, mereka yang disebut “Yang Terhormat” oleh Pak Din, mereka yang diberi amanah oleh rakyat untuk menyelenggarakan negara.

Demikianlah gaungnya puisi. Dia harus sampai ke sasarannya. Bukankah puisi itu sejatinya punya daya gugah yang tinggi?

Saya tidak bisa membayangkan apabila puisi serta karya sastra pada umumnya hanya dibaca oleh para penyair atau sastrawan. Sastra menjadi terisolasi dari dunia yang sesungguhnya.

Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa puisi itu adalah seni, dan seni adalah untuk seni. Mungkin itu benarnya. Saya juga tidak paham sepenuhnya karena bukanlah ahli sastra.

Tetapi bagaimana mungkin puisi-puisi “Kepada Yang Terhormat” yang penuh kegelisahan karya Pak Din ini hanya sebatas karya seni yang tidak terdengar gaungnya sampai mereka yang disebut “Yang Terhormat” itu? Ada yang aneh jika demikian.

Itu menurut pendapat saya, Bapak dan Ibu serta Sahabat sekalian.

Saat ini peradaban manusia berada para era Industrial Revolution 4.0, di mana cybertechnology menjadi bagian dari kehidupan umat manusia. Internet of Things (IOT) akan menjadi teman sehari-hari manusia.

Bahkan Chris Skinner dalam bukunya “Digital Human” yang baru saja terbit mengatakan kita sedang mengalami Humanity Revolution 4.0, di mana umat manusia terhubung secara digital, aliran informasi semakin cepat, dunia seokah-olah menjadi tanpa batas.

Lantas apakah fungsi puisi atau sastra secara umum pada era Industrial Revolution 4.0 dan Humanity Revolution 4.0?

Menurut saya, dia adalah salah satu instrumen yang selalu mengingatkan sisi kemanusiaan kita.

Saya mengutip buku John Naisbitt, kita membutuhkan high tech, high touch. Teknologi tinggi dengan sentuhan manusiawi yang tinggi.

Puisi akan mengingatkan kita, bahwa kita adalah manusia.

Demikianlah. Selamat untuk pementasannya, salam sukses selalu Pak Din. Terima kasih.

Wassalamu alaikum wr wb.