Dapur Sastra Jakarta Mengunjungi Rumah Puisi Taufik Ismail di Aie Angek, Tanah Datar

Pada tanggal 3 Mei 2018, dalam rangka tur Dapur Sastra Jakarta ke Sumatra Barat, sebelum mengikuti Temu Penyair Asia Tenggara 2018, DSJ mengunjungi Rumah Puisi Taufik Ismail yang berlokasi di Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar, dekat kota Padang Panjang.

Rombongan DSJ terdiri dari Remmy Novaris DM, Riri Satria, Nunung Noor El Niel, Imam Ma’arif, Ade Novi, Roymon Lemosol, Neni Yulianti, Jusiman Dessirua, Romy Sastra, serta dua sahabat lain yang ikut rombongan, yaitu penyair senior Uki Bayu Sedjati serta NK Palupi (yang kemudian bergabung dengan DSJ).

Rombongan disambut oleh Ibu Eka, manajer pengelola Rumah Puisi Taufik Ismail, dan juga menjelaskan banyak hal mengenai keberadaan rumah puisi ini.

DSJ Puisi 5

Dapur Sastra Jakarta mengunjungi Komunitas Intro di Payakumbuh

Pada tanggal 3 Mei 2018, dalam rangka tur Dapur Sastra Jakarta ke Sumatra Barat, sebelum menuju Padang Panjang untuk mengikuti Temu Penyair Asia Tenggara 2018, DSJ mengunjungi komunitas sastra Intro di Payakumbuh asuhan penyair senior Iyut Fitra. Kami juga disambut oleh penulis senior Gus TF Sakai, serta sahabat penyair Okta Piliang.

Rombongan DSJ terdiri dari Remmy Novaris DM, Riri Satria, Nunung Noor El Niel, Imam Ma’arif, Ade Novi, Roymon Lemosol, Neni Yulianti, Jusiman Dessirua, Romy Sastra, serta dua sahabat lain yang ikut rombongan, yaitu penyair senior Uki Bayu Sedjati serta NK Palupi (yang kemudian bergabung dengan DSJ).

Pada kesempatan yang berbahagia itu, DSJ juga menyerahkan buku antologi puisi terbaru karya para anggota Dapur Sastra Jakarta “Ketika Kata Berlipat Makna” untuk komunitas Intro.

Sementara itu Riri Satria dan NK Palupi juga menyerahkan buku antologi masing-masing untuk perpustakaan komunitas Intro.

Penyair Iyut Fitra juga baru menerbitkan buku antologi puisinya yang terbaru, yaitu “Mencari Jalan Mendaki”.

Terima kasih atas sambutan yang ramah, hangat, dan penuh persahabatan. Semoga silaturrahmi kita selalu terjaga.

Puisi dan Gaungnya

(Riri Satria)

Sambutan pada acara pementasan puisi karya Din Saja “Kepada Yang Terhormat” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 12 Mei 2018.
—-

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Bapak, Ibu, serta Sahabat yang saya muliakan.

Saya diminta oleh Pak Din Saja alias Safruddin Basyar alias Ade Sukma (nama beken beliau sewaktu aktif di Taman Budaya Padang pada tahun 1980an) untuk memberikan sambutan pada acara pementasan puisi karya beliau “Kepada Yang Terhormat” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Terima kasih Pak Din, ini sungguh suatu kehormatan buat saya.

Tetapi di sisi lain saya bingung, mau bicara apa? Saya memberikan sambutan dalam kapasitas sebagai apa? Sebagai penyair terkenal, bukan! Sebagai pengamat puisi, juga bukan! Sebagai akademisi sastra, pasti bukan!

Pak Din hanya mengatakan, sampaikanlah apa yang perlu disampaikan. Semakin bertambah bingung saya.

Tetapi demi memenuhi permintaan sahabat, saya mencoba memotret dari sisi lain, bukan sebagai ahli puisi, tetapi sebagai penyuka atau pencinta puisi.

Baiklah Bapak, Ibu, serta Sahabat semua. Sebagai disclaimer, saya menyampaikan bahwa saya berkecimpung di bidang teknologi informasi dan manajemen. Sama sekali tidak kaitannya dengan puisi atau sastra. Tetapi saya memang suka menulis puisi, tetapi hanya sebatas itu.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Bapak, Ibu dan Sahabat semua untuk merenungkan beberapa hal melalui beberapa pertanyaan. Apakah puisi atau sastra itu hanya sekedar hiburan? Atau dia jauh lebih dahsyat daripada itu? Apakah puisi hanya akan dibaca dan ditonton oleh sesama penyair? Sampai manakah gaung puisi itu?

Puisi adalah bagian dari dunia sastra, dan sastra adalah sesuatu yang besar. Ada hadiah Nobel untuk sastra, sama dengan ilmu Fisika, ilmu Kedokteran, Ilmu Ekonomi, dan sebagainya. Betapa terhormatnya posisi sastra dalam peradaban manusia. Sastra sejajar dengan ilmu pengetahuan atau sains yang membentuk peradaban manusia.

Kita menyaksikan banyak sastrawan yang sanggup menggentarkan rezim pemerintahan di berbagai negara.

Dengan demikian, bukankah puisi atau sastra secara umum harus masuk sampai ke ruang-ruang sosial di masyarakat?

Apakah kumpulan puisi Pak Din Saja yang berjudul “Kepada Yang Terhormat” ini akan berhenti pada dinding pembatas ruang teater ini saja? Sayang sekali jika demikian. Kegelisahan Pak Din dalam berbagai puisi yang disajikan malam ini harus sampai kepada mereka yang dituju, mereka yang disebut “Yang Terhormat” oleh Pak Din, mereka yang diberi amanah oleh rakyat untuk menyelenggarakan negara.

Demikianlah gaungnya puisi. Dia harus sampai ke sasarannya. Bukankah puisi itu sejatinya punya daya gugah yang tinggi?

Saya tidak bisa membayangkan apabila puisi serta karya sastra pada umumnya hanya dibaca oleh para penyair atau sastrawan. Sastra menjadi terisolasi dari dunia yang sesungguhnya.

Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa puisi itu adalah seni, dan seni adalah untuk seni. Mungkin itu benarnya. Saya juga tidak paham sepenuhnya karena bukanlah ahli sastra.

Tetapi bagaimana mungkin puisi-puisi “Kepada Yang Terhormat” yang penuh kegelisahan karya Pak Din ini hanya sebatas karya seni yang tidak terdengar gaungnya sampai mereka yang disebut “Yang Terhormat” itu? Ada yang aneh jika demikian.

Itu menurut pendapat saya, Bapak dan Ibu serta Sahabat sekalian.

Saat ini peradaban manusia berada para era Industrial Revolution 4.0, di mana cybertechnology menjadi bagian dari kehidupan umat manusia. Internet of Things (IOT) akan menjadi teman sehari-hari manusia.

Bahkan Chris Skinner dalam bukunya “Digital Human” yang baru saja terbit mengatakan kita sedang mengalami Humanity Revolution 4.0, di mana umat manusia terhubung secara digital, aliran informasi semakin cepat, dunia seokah-olah menjadi tanpa batas.

Lantas apakah fungsi puisi atau sastra secara umum pada era Industrial Revolution 4.0 dan Humanity Revolution 4.0?

Menurut saya, dia adalah salah satu instrumen yang selalu mengingatkan sisi kemanusiaan kita.

Saya mengutip buku John Naisbitt, kita membutuhkan high tech, high touch. Teknologi tinggi dengan sentuhan manusiawi yang tinggi.

Puisi akan mengingatkan kita, bahwa kita adalah manusia.

Demikianlah. Selamat untuk pementasannya, salam sukses selalu Pak Din. Terima kasih.

Wassalamu alaikum wr wb.

Kebun-Kebun Brutus

(Conie Sema)

setelah menggambarkan gerakan peristiwa masa lalunya, lelaki itu mengungsi ke Kreta. sebuah pulau tanpa cinta. di sana melahirkan jutaan Brutus. bermetamorfosis menjadi mesin produksi. berbiak pada bentang alam yang dikuasai dan ditanami jutaan pohon Brutus.

100 tahun setelah itu, aku bertemu kekasih Julius Caesar. kami menikah. menulis ulang surat-surat cinta Shakespeare. tragedi senyap negeri yang jauh. mungkin bangsaku atau bangsamu. ingatan buram. memori luka. para pengkhianat yang diberi kepercayaan. pemilik kebun yang mengatur kekuasaan. Et tu, Brute! dan kamu, Brutus, tunjukku.
malam berlalu pada siang dan waktu selalu tak terkalahkan. kami kembali dipaksa berdamai dengan kecewa dan sakit hati. memeluk kayu-kayu rimba dan kebun-kebun yang telah menaklukkan mimpi kami. et tu, Brute!

Kemiling, Mei 2018

Situs Kutukan

(Remmy Novaris DM)

— malin kundang

batu itu tersungkur di pesisir
ketika mitos-mitos menjadi kutukan
di antara situs-situs pedagang kaki lima
untuk sepenuhnya dipercaya
sebagai legenda doa ibu yang diaminkan

laut pun membentang di hadapan
seperti buku terbuka
penuh halaman-halaman gelombang
tentang sanak famili di rantau
menyisakan jejak tradisi di pasir
terhapus oleh lidah-lidah ombak
terbaca di antara fiksi dan fakta

(air manis-jakarta 2018)

Sensasi

(Nunung Noor El Niel)

hanya sebuah sensasi yang kau ledakan
di salah satu sudut kota
dan hanya membuatmu melolong panjang
bukan sebagai seekor srigala
tapi seekor anjing kurap yang merayap
di atas sisa-sisa bangkai tubuhmu sendiri

kota itu sudah terlalu lama menyimpan kecemasan
hingga ketakutan bukan lagi pilihan
setiap orang berjaga-jaga menyusun malam
untuk setiap impian yang mereka bangun
dari setiap kekalahan menuju kemenangan tertunda

maka jangan lagi kau berharap
dapat merengkuh setiap tubuhnya
hanya untuk menjadi bagian dari dirimu
dan terkapar di tepi jalan

sebab mereka tahu masih ada yang lebih terhormat
dibanding sekadar menjadi anjing kurap
sebagai manusia yang penuh harkat dan martabat
bukan dengan jalan penuh khianat dan pelaknat
dan memilih jalan sesat menuju akhirat

apalagi hasrat yang kau ingin sematkan
jika gairahmu hanya tinggal serpihan-serpihan
dan persetubuhanmu dengan maut
hanya seperti sperma yang dipercikan ilusi
tidak untuk diaminkan sebagai pengampunan
kecuali untuk dinistakan dari sebuah peradaban

Denpasar 19 05 2018 – 28116

Muhammad De Putra

Muhammad Ade Putra dengan nama pena Muhammad de Putra, Lahir di Pekanbaru, 26 Mei 2001. Lahir dari keluarga sederhana sebagai anak terakhir dan terlahir kembar bersama Putri Ayu Aulia (Cerpenis Muda Riau). Tanpa TK (Taman Kanak-kanak), ia tidak bisa membaca hingga kelas 3 SD, sampai ia berjumpa dengan Muhammad Asqalani eNeSTe (Penyair Muda Riau), guru privat sastranya. Beliau yang mengajari de Putra untuk membaca dan menulis.

Di usianya yang sangat muda, ia telah menulis puisi dan puisinya itu telah dimuat di laman-laman sastra lokal. Hingga kini ia masih menulis puisi dan menerbitkan buku tunggal. Bergiat di COMPETER (Community Pena Terbang). Kini juga aktif sebagai peserta di komunitas sastra dapur Sastra Jakarta.

Saat ini ia masih bersekolah di SMAN 1 Pekanbaru, bergiat di COMPETER dan aktif sebagai pegiat sastra yang masuk-masuk ke daerah-daerah terdalam Riau, seperti Aur Kuning, Ludai, Rantau Bais, Sei Kijang, dan banyak lagi, dalam kegiatan Kenduri Puisi.

Memenangkan beberapa lomba, di antaranya: Juara 1 Menulis Puisi di Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN 2016, di Jakarta), Finalis sekaligus Pemenang 3 Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia di Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI 2016, Jakarta), Juara 1 Lomba Cipta Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia, Juara 1 Lomba Menulis Puisi se-Indonesia tema “Cinta Tanah Air” 2016, Juara 1 Lomba Cipta Puisi di Praktikum Sastra UR tingkat SMP se-Riau, Juara 1 Lomba Menulis Cerpen di Public Fest UR se-Riau, Harapan 1 Lomba Menulis Syair di ARKI 2017, Juara 1 Lomba Menulis Puisi di FLS2N Prov. Riau, Juara 1 Lomba Cipta Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia 2016, Juara 2 Lomba Menulis Uneg-uneg Pendidikan se-Indonesia yang ditaja oleh GMBI 2017, Juara 1 Lomba Cipta Cerpen di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia 2016, Juara 1 Lomba Membaca Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Riau, Juara 2 Lomba Baca Puisi pada Pekan Sastra yang ditaja oleh Balai Bahasa Riau se-Riau 2017, Harapan 1 Lomba Menulis Puisi bertemakan Riau Bangkit 2017, Harapan 2 Lomba Cipta Cerpen di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia 2015, Harapan 2 Lomba Menulis Puisi RUAS se-indonesia dan Malaysia, Juara 2 Berpidato tingkat SMP se-Kampar & Juara 1 Lomba Cipta Puisi tingkat Penyair Muda se-Indonesia yang ditaja oleh Sabana Pustaka dan menghasilkan puisinya tersebut di jadikan judul Antologi buku, Peserta Festival Literasi 2016 (Gerakan Literasi Nasional di Palu, Sulawesi Tengah).

Karya-karyanya dimuat di laman: Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Horison, Riau Pos, Lampung Post, Rakyat Sultra, Lombok Pos, Radar Surabaya, Tribun Jabar, Linikini.co, Batam Pos, Solo Pos, Koran Merapi, Minggu Pagi, Singgalang, Banjarmasin Post, Medan Bisnis, BASABASI.CO, Haluan Padang, Sumut Pos, Majalah Kanal, Rakyat Sumbar, Majalah Kuntum, Apajake.com, Tanjung Pinang Pos, Metro Riau, Xpresi Riau Pos, Literasi.co.id, NusantaraNews.co, Tribun Bali, Koran Riau, Tribun Sumsel, Radar Banyuwangi, Koran Madura, Jejak Literasi, Flores(dot)com, Posmetro Prabu, Majalah Kanal, Buletin Jejak, ReadZone.co, Xpresi Magazine, Riau Realita, Tetas Kata, Sayap Kata, Detak Pekanbaru dan Sudut Aksara.

Puisinya juga termaktub dalam banyak antologi seperti: Merantau Malam, Pasie Karam, Pada Mula Hidup yang Lama, 1550 MDPL, Negeri Awan (Negeri Poci 7), TeraKota, Melankolia Surat Kematian, Matahari Sastra Riau, dll. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit: Kepompong dalam Botol (2016), Kumpulan Cerpennya yang telah terbit: Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan (2016). Buku Kumpulan Puisi Tunggalnya yang ke-3: Hikayat Anak-anak Pendosa (2017), Kumpulan Puisinya yang terbit dalam dwi-bahasa Inggris dan Indonesia: Malay Children is Disallowed to Cry for the Nation. Serta tengah menyusun buku puisi selanjutnya berjudul Gadis-Gadis Subayang dan sebuah novel dengan judul Dorado.

Turut diundang pada acara sastra, Silaturahmi Penyair Sumbar-Riau pada Malam Puisi Tahun Baru. Hari Puisi Indonesia di Riau, Bukittinggi, Pasaman Barat dan beberapa kota lainnya. Peserta Belajar Bersama Maestro (BBM) 2017, dengan maestronya Iman Soleh (Teater, Bandung) dan mementaskan sebuah pertunjukan teater berjudul; “Ode Kota Kami” karya bersama 20 anak seluruh Indonesia. Diundang sebagai peserta Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2017 untuk naskah puisi.

Bukunya Hikayat Anak-anak Pendosa, menjadikannya sebagai pemenang Promising Writer pada Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017. Pemenang Kompetisi #SahabArtEurpalia dari Kemdikbud, dan membawanya berkeliling Eropa.

Nuning Kusumaning Palupi (Mawar Kikan)

50933f80-c12c-41d7-a5ed-4d21d98e4541Nuning Kusumaning Palupi yang dikenal dengan nama pena Mawar Kikan, kelahiran Palembang 11-02-1971, dan sampai saat ini menetap di Ungaran di bawah Gunung Ungaran.

Memilih menjadi ibu rumah tangga ibu dari Shanaz Vindi Setyarini Mahasiswa UNDIP smester IV dan dua orang putra Renovito Patra Anggana serta Daffa Albaihaqi Musyafa.

Bagi Nuning, memilih meninggalkan pekerjaan bukan sebuah keputusan yang mudah karena dalam hidup banyak hal yang harus diproritaskan selain karier serta jabatan.

Meskipun sempat menjadi Kepala Perpustakaan, Assesor Perhotelan, serta Dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang, pada akhirnya hidup adalah sebuah pilihan. Ada hal yang dikorbankan dan ada hal yang diperjuangkan untuk dinikmati bersama.

Melukis salah satu hobbi terbaru selain membatik dan mengikuti kegiatan pecinta alam untuk penghijauan di gunung Ungaran. Selain itu Nuning juga giat melakukan meditasi sebagai penyeimbang

Bagi Nuning, apa yang pikirkan, harus dikerjakan, lalu apa yang diinginkan akan diupayakan, mensugesti diri dengan hal hal positif berkomitmen untuk menunaikannya dengan baik. Puisi adalah implementasi hati jiwa serta raga, dan seni pada umumnya adalah inti dari keindahan dan kejujuran.

Karya puisi Nuning sudah diterbitkan dalam sebuah antologi tunggal ‘Nyanyian Kabut Sang Mawar Kikan” (2013), di samping yang diterbitkan dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: “Negeri Cincin Api” (2011), “Ibu” (2014), “Perempuan Menolak Korupsi” (2015), “Tifa Nusantara 2” (2015), “Tifa Nusantara 3” (2016), “Ruang Tak Lagi Ruang (2017), serta “Antologi Epitaf Kota Hujan” (2018)

Setahun belakangan ini Nuning sudah melukis hampir 50 buah karya lukisan baik menggunakan aat acrylic maupun oil colour

Selfina Maulany

Selfina Maulany (biasa dipanggil Evi) lahir di Desa Eri, kecamatan Nusaniwe, kota Ambon, provinsi Maluku pada tanggal 26 Desember 1961, anak ketiga dari enam bersaudara, bersuku Maluku baik ayah maupun ibu.

Berbekal semangat dan cinta terhadap karya sastra, Evi mulai menekuni sastra pada tahun 2006 dengan mengikuti beberapa lomba yang berkaitan dengan menulis, seperti LMCP kegiatan MMAS dan APRESDA, kegiatan lain lagi yang berkaitan dengan puisi yakni musikalisasi puisi. Banyak sekali yang didapati dari kegiatan-kegiatan itu sehingga Evi tetap semangat untuk menulis dan membaca karya sastra.

Tidak pernah terlintas dalam pikiran Evi untuk berhenti menulis karya sastra khususnya puisi, walaupun kadang gagal tapi tidak pernah putus asa. Apabila dalam membaca ataupun mnulis mendapat kritikan tetapi tetap merendah, sabar, kegagalan hari ini merupakan kesuksesan yang tertunda.

Pada tahun 2017 puisi Evi dimuat dalam buku antologi Puisi Banjarbaru The First Drop of Rain, lalu diikuti oleh Antologi Puisi Perempuan Memandang Dunia (2018), kemudian lolos puisi Temu Penyair Asia Tenggara di Padang Panjang (2018).

Keseharian Evi bekerja sebagai pendidik pada SMA Negeri 6 Ambon. Tugas kerja yang sekian banyak di jenjang ini tidak melunturkan semangatnya untuk tetap menulis dan berapresiasi.

Moto hidupnya:
Membaca, menulis itulah makananku
Kerendahan hati itulah minumanku

Renungan

(Dhe Sundayana Perbangsa)

engkau menitip pesan pada angin dan air
bermakna:
baladakah?
elegikah?
atau teguran bermusim?
kepada batu-batu

angin merabut akar keramat pohonan
air mewujud badai gelombang
menyapu belantara keadaan

akukah penabur bibit petaka kebodohan
di atas lahan pemikiran?
hingga pesan engkau titipkan
; renungan

jika dikata kemurkaan
aku masih mencari jawaban
karena engkau penyayang

Bekasi, 01 Desember 2017