Muhammad De Putra

Muhammad Ade Putra dengan nama pena Muhammad de Putra, Lahir di Pekanbaru, 26 Mei 2001. Lahir dari keluarga sederhana sebagai anak terakhir dan terlahir kembar bersama Putri Ayu Aulia (Cerpenis Muda Riau). Tanpa TK (Taman Kanak-kanak), ia tidak bisa membaca hingga kelas 3 SD, sampai ia berjumpa dengan Muhammad Asqalani eNeSTe (Penyair Muda Riau), guru privat sastranya. Beliau yang mengajari de Putra untuk membaca dan menulis.

Di usianya yang sangat muda, ia telah menulis puisi dan puisinya itu telah dimuat di laman-laman sastra lokal. Hingga kini ia masih menulis puisi dan menerbitkan buku tunggal. Bergiat di COMPETER (Community Pena Terbang). Kini juga aktif sebagai peserta di komunitas sastra dapur Sastra Jakarta.

Saat ini ia masih bersekolah di SMAN 1 Pekanbaru, bergiat di COMPETER dan aktif sebagai pegiat sastra yang masuk-masuk ke daerah-daerah terdalam Riau, seperti Aur Kuning, Ludai, Rantau Bais, Sei Kijang, dan banyak lagi, dalam kegiatan Kenduri Puisi.

Memenangkan beberapa lomba, di antaranya: Juara 1 Menulis Puisi di Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN 2016, di Jakarta), Finalis sekaligus Pemenang 3 Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia di Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI 2016, Jakarta), Juara 1 Lomba Cipta Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia, Juara 1 Lomba Menulis Puisi se-Indonesia tema “Cinta Tanah Air” 2016, Juara 1 Lomba Cipta Puisi di Praktikum Sastra UR tingkat SMP se-Riau, Juara 1 Lomba Menulis Cerpen di Public Fest UR se-Riau, Harapan 1 Lomba Menulis Syair di ARKI 2017, Juara 1 Lomba Menulis Puisi di FLS2N Prov. Riau, Juara 1 Lomba Cipta Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia 2016, Juara 2 Lomba Menulis Uneg-uneg Pendidikan se-Indonesia yang ditaja oleh GMBI 2017, Juara 1 Lomba Cipta Cerpen di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia 2016, Juara 1 Lomba Membaca Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Riau, Juara 2 Lomba Baca Puisi pada Pekan Sastra yang ditaja oleh Balai Bahasa Riau se-Riau 2017, Harapan 1 Lomba Menulis Puisi bertemakan Riau Bangkit 2017, Harapan 2 Lomba Cipta Cerpen di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia 2015, Harapan 2 Lomba Menulis Puisi RUAS se-indonesia dan Malaysia, Juara 2 Berpidato tingkat SMP se-Kampar & Juara 1 Lomba Cipta Puisi tingkat Penyair Muda se-Indonesia yang ditaja oleh Sabana Pustaka dan menghasilkan puisinya tersebut di jadikan judul Antologi buku, Peserta Festival Literasi 2016 (Gerakan Literasi Nasional di Palu, Sulawesi Tengah).

Karya-karyanya dimuat di laman: Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Horison, Riau Pos, Lampung Post, Rakyat Sultra, Lombok Pos, Radar Surabaya, Tribun Jabar, Linikini.co, Batam Pos, Solo Pos, Koran Merapi, Minggu Pagi, Singgalang, Banjarmasin Post, Medan Bisnis, BASABASI.CO, Haluan Padang, Sumut Pos, Majalah Kanal, Rakyat Sumbar, Majalah Kuntum, Apajake.com, Tanjung Pinang Pos, Metro Riau, Xpresi Riau Pos, Literasi.co.id, NusantaraNews.co, Tribun Bali, Koran Riau, Tribun Sumsel, Radar Banyuwangi, Koran Madura, Jejak Literasi, Flores(dot)com, Posmetro Prabu, Majalah Kanal, Buletin Jejak, ReadZone.co, Xpresi Magazine, Riau Realita, Tetas Kata, Sayap Kata, Detak Pekanbaru dan Sudut Aksara.

Puisinya juga termaktub dalam banyak antologi seperti: Merantau Malam, Pasie Karam, Pada Mula Hidup yang Lama, 1550 MDPL, Negeri Awan (Negeri Poci 7), TeraKota, Melankolia Surat Kematian, Matahari Sastra Riau, dll. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit: Kepompong dalam Botol (2016), Kumpulan Cerpennya yang telah terbit: Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan (2016). Buku Kumpulan Puisi Tunggalnya yang ke-3: Hikayat Anak-anak Pendosa (2017), Kumpulan Puisinya yang terbit dalam dwi-bahasa Inggris dan Indonesia: Malay Children is Disallowed to Cry for the Nation. Serta tengah menyusun buku puisi selanjutnya berjudul Gadis-Gadis Subayang dan sebuah novel dengan judul Dorado.

Turut diundang pada acara sastra, Silaturahmi Penyair Sumbar-Riau pada Malam Puisi Tahun Baru. Hari Puisi Indonesia di Riau, Bukittinggi, Pasaman Barat dan beberapa kota lainnya. Peserta Belajar Bersama Maestro (BBM) 2017, dengan maestronya Iman Soleh (Teater, Bandung) dan mementaskan sebuah pertunjukan teater berjudul; “Ode Kota Kami” karya bersama 20 anak seluruh Indonesia. Diundang sebagai peserta Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2017 untuk naskah puisi.

Bukunya Hikayat Anak-anak Pendosa, menjadikannya sebagai pemenang Promising Writer pada Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017. Pemenang Kompetisi #SahabArtEurpalia dari Kemdikbud, dan membawanya berkeliling Eropa.

Nuning Kusumaning Palupi (Mawar Kikan)

50933f80-c12c-41d7-a5ed-4d21d98e4541Nuning Kusumaning Palupi yang dikenal dengan nama pena Mawar Kikan, kelahiran Palembang 11-02-1971, dan sampai saat ini menetap di Ungaran di bawah Gunung Ungaran.

Memilih menjadi ibu rumah tangga ibu dari Shanaz Vindi Setyarini Mahasiswa UNDIP smester IV dan dua orang putra Renovito Patra Anggana serta Daffa Albaihaqi Musyafa.

Bagi Nuning, memilih meninggalkan pekerjaan bukan sebuah keputusan yang mudah karena dalam hidup banyak hal yang harus diproritaskan selain karier serta jabatan.

Meskipun sempat menjadi Kepala Perpustakaan, Assesor Perhotelan, serta Dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang, pada akhirnya hidup adalah sebuah pilihan. Ada hal yang dikorbankan dan ada hal yang diperjuangkan untuk dinikmati bersama.

Melukis salah satu hobbi terbaru selain membatik dan mengikuti kegiatan pecinta alam untuk penghijauan di gunung Ungaran. Selain itu Nuning juga giat melakukan meditasi sebagai penyeimbang

Bagi Nuning, apa yang pikirkan, harus dikerjakan, lalu apa yang diinginkan akan diupayakan, mensugesti diri dengan hal hal positif berkomitmen untuk menunaikannya dengan baik. Puisi adalah implementasi hati jiwa serta raga, dan seni pada umumnya adalah inti dari keindahan dan kejujuran.

Karya puisi Nuning sudah diterbitkan dalam sebuah antologi tunggal ‘Nyanyian Kabut Sang Mawar Kikan” (2013), di samping yang diterbitkan dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: “Negeri Cincin Api” (2011), “Ibu” (2014), “Perempuan Menolak Korupsi” (2015), “Tifa Nusantara 2” (2015), “Tifa Nusantara 3” (2016), “Ruang Tak Lagi Ruang (2017), serta “Antologi Epitaf Kota Hujan” (2018)

Setahun belakangan ini Nuning sudah melukis hampir 50 buah karya lukisan baik menggunakan aat acrylic maupun oil colour

Selfina Maulany

Selfina Maulany (biasa dipanggil Evi) lahir di Desa Eri, kecamatan Nusaniwe, kota Ambon, provinsi Maluku pada tanggal 26 Desember 1961, anak ketiga dari enam bersaudara, bersuku Maluku baik ayah maupun ibu.

Berbekal semangat dan cinta terhadap karya sastra, Evi mulai menekuni sastra pada tahun 2006 dengan mengikuti beberapa lomba yang berkaitan dengan menulis, seperti LMCP kegiatan MMAS dan APRESDA, kegiatan lain lagi yang berkaitan dengan puisi yakni musikalisasi puisi. Banyak sekali yang didapati dari kegiatan-kegiatan itu sehingga Evi tetap semangat untuk menulis dan membaca karya sastra.

Tidak pernah terlintas dalam pikiran Evi untuk berhenti menulis karya sastra khususnya puisi, walaupun kadang gagal tapi tidak pernah putus asa. Apabila dalam membaca ataupun mnulis mendapat kritikan tetapi tetap merendah, sabar, kegagalan hari ini merupakan kesuksesan yang tertunda.

Pada tahun 2017 puisi Evi dimuat dalam buku antologi Puisi Banjarbaru The First Drop of Rain, lalu diikuti oleh Antologi Puisi Perempuan Memandang Dunia (2018), kemudian lolos puisi Temu Penyair Asia Tenggara di Padang Panjang (2018).

Keseharian Evi bekerja sebagai pendidik pada SMA Negeri 6 Ambon. Tugas kerja yang sekian banyak di jenjang ini tidak melunturkan semangatnya untuk tetap menulis dan berapresiasi.

Moto hidupnya:
Membaca, menulis itulah makananku
Kerendahan hati itulah minumanku

Renungan

(Dhe Sundayana Perbangsa)

engkau menitip pesan pada angin dan air
bermakna:
baladakah?
elegikah?
atau teguran bermusim?
kepada batu-batu

angin merabut akar keramat pohonan
air mewujud badai gelombang
menyapu belantara keadaan

akukah penabur bibit petaka kebodohan
di atas lahan pemikiran?
hingga pesan engkau titipkan
; renungan

jika dikata kemurkaan
aku masih mencari jawaban
karena engkau penyayang

Bekasi, 01 Desember 2017

Dhe Sundayana Perbangsa

Dhe Sundayana Perbangsa adalah nama pena, gabungan antara nama kedua anak lelakinya. Lahir di kota karawang, 27 Maret. Teman-teman semasa SMP dan teman-teman lama di dunia maya (FB) biasa memanggilnya “Singa”.

Dia menyukai sastra dalam hal ini puisi sejak duduk di kursi kelas 1 SMP. Setiap sabtu malam semasa SMP rutin mengirim puisi ke radio swadaya di kota Karawang. Suka bercanda adalah ciri khas disaat berkumpul dengan teman-temannya. namun, serius juga bisa tentunya.

Dapur Sastra Jakarta adalah tempat sekaligus rumah keduanya kini belajar dan menyalurkan karya-karya dari puisinya. Walau pun dia banyak tergabung di beberapa grup sastra, namun DSJ menjadi pilihan utama untuk mengembangkan kegemarannya dalam menulis puisi.

Puisi-puisinya telah turut serta berkontribusi di antologi bersama beberapa grup, antara lain Sastra Kidung Semilir (lima kali antologi).

Dia belajar dan terus belajar tentang literasi secara otodidak dari para senior serta teman-temannya pula

Panggil Saja Aku Ijen

(Abi N. Bayan)

Jika lidah terlalu sulit
mengucap isyarat yang
menandai tubuhku

panggil saja aku ijen

kau akan temukan
lembah dan sawah
di dadaku
hutan dan gunung

bagai cerita
pohon dan batu-batu
digeser sungai
ke laut. lalu lepas
menjadi perahu.

Panggil saja aku ijen
biar menari
di antara kawah
dan hutan rimbun

sebagai teman
sebagai sahabat

sebagai kekasih
sebagai kita.

Supu, Ternate, 23 Februari 2018.

Renjana

(Wendy Fermana)

Setelah memacu bebek butut yang kau benci sekaligus kau sayangi sejauh sembilan kilometer ke satu-satunya warnet yang bisa kau temukan di ibu kota kabupaten untuk membuka akun pos-el demi menuntaskan pertanyaan ibumu, kau tak langsung pulang. Usai membayar—kau tertegun sebentar saat mendapati di dompetmu hanya tersisa beberapa lembar uang lima ribu dan seribu perak yang lusuh—biaya rental komputer berfasilitas internet dan mencetak hasil pengumuman dan surat-surat serta membeli sebuah amplop dokumen berwarna cokelat, kau berkeliling dengan motor bebekmu. Jalan raya beraspal yang melingkari kota itu kau susuri perlahan dengan perasaan yang hampa. Tiap kali sampai di titik pertama memulai perjalanan menjelajahi jalan lingkar itu, kau terus melontarkan pertanyaan yang sama yang terus-menerus tak sanggup kau jawab sendiri hingga jalan itu telah kau putari enam kali. Pada putaran ketujuh kau berhenti untuk kemudian membiarkan dirimu tertawa. Tertawa yang puas hingga berderai-derai air mata. Menyadari betapa saat kau ingin sekali marah, ketika kau ingin mengutuk-ngutuk ibu dan keluargamu, dan bahkan Sang Pencipta kalau perlu, sampai puas, kau justru menjalankan laku marah itu serupa ibadah, mengelilingi jalanan kota tujuh kali serupa jumlah tawaf kakbah.

Mulanya kau berniat pulang, tetapi kau tidak ingin menjadikan putaran ini hanya tujuh kali. Kau ingin menghancurkan bilangan tujuh itu. Kau akan berputar lagi dan setelahnya mungkin akan menuju ke suatu tempat untuk berehat. Kembali kau pacu sepeda motormu. Ke arah utara kota, jalan yang kau tempuh melewati arena pusat olahraga. Ketika SMA dulu, kau sering mengajak Maharani jalan ke stadion sepak bola itu. Kau ajukan ajakan maraton pagi atau jalan sore atau aerobik massal atau sekadar cari angin sebagai kemungkinan untuk membujuknya agar mau jalan berdua bersamamu. Melewati kembali gedung olahraga yang kini sebagian atapnya telah ambruk dan tiang-tiang beton hampir roboh itu membuat perasaanmu jeri, betapa yang kukuh akan telimpuh karena digerogoti waktu. Bayang-bayang masa lalu itu macam hantu, tak tampak, tapi mencengkeram kuat. Memori berlintasan, datang dan pergi, membuatmu berusaha mengingat-ingat, berapa kali kau berhasil bercumbu dengan Maharani di sana. Kau sendiri saat itu was-was dan takut andaikata Maharani menolak, lalu mendampratmu, dan menjerit-jerit pada orang-orang. Kau agak lupa bagaimana kau bisa menggiring Maharani melakukannya dengan tenang. Namun, sepertinya begini, awalnya kau melontarkan tema obrolan tentang alam semesta, membagikan pengetahuanmu mengenai berbagai benda antariksa—menurutmu itu mungkin yang membuatnya agak terpukau—dan membicarakan kemungkinan-kemungkinan soal kehidupan lain di angkasa luar, lalu semuanya terjadi begitu saja. Yang sangat kau ingat adalah kecanggungan dan penyesalan luar biasa setelahnya.

Jalan hari itu cukup lengang. Seperti refleks saja, atau mungkin takdir yang memang telah digariskan, kau melalui jalanan yang sangat akrab dalam sejarah hidupmu: jalan rumahmu dulu, sebelum akhirnya kau dan ibumu menyingkir dari sana. Waktu baru-baru meninggalkan rumah itu, ketika kau tak bisa menahan murkamu yang meradang, sering kau bertolak ke sana dan melempari rumah itu dengan sekantong kresek telur pecah yang kau beli murah atau tomat-tomat busuk yang kau pungut dari bak sampah di pasar. Kini, kau dapati rumah itu tak lagi terurus: tembok pagarnya berlumut, dindingnya kusam dengan jendela kaca yang pecah dan perabot yang mungkin tak sempat diangkut atau sengaja dibiarkan teronggok dengan posisi terguling di teras, macam rumah latar film horor. Dulu kalau kau sedang tak ada uang untuk melempari telur dan sial karena tak menemukan tomat busuk, kau lumayan sering mengencingi pagar rumah itu lalu kabur. Kau terpikir untuk menyemburkan kembali air kencing ke sana, tetapi kau menarik ke atas ritsleting celanamu yang telah terbuka. Kau memang masih berang, tetapi buat apa, tidak ada siapa-siapa lagi di dalam sana. Kau mengengkol sepeda motormu.

Sepanjang jalan kau menghitung sekian pohon yang telah lenyap. Kau tak ingat utuh jumlahnya dahulu; kau sekadar mengira-ngira dengan mengais-ngais ingatan tentang cerita-cerita horor yang pernah dituturkan kerabat atau kawanmu: di pohon beringin di depan sekolah itu ada hantu perempuan yang gentayangan mencari tas sekolahnya yang hilang, di pohon bodhi atau barangkali pohon beringin di depan kantor polisi ada hantu kompeni yang kerap terdengar meringkik macam kuda, di pohon beringin kurung atau mungkin pohon gayam dekat pasar ada hantu yang gemar menyapu-nyapu tengah malam, di pohon banyan atau barangkali pohon bodhi atau barangkali pohon beringin di lapangan markas tentara ada setan merah tanpa kepala, di pohon kayu ara atau mungkin pohon bodhi atau pohon apalah itu di depan rumah sakit milik yayasan pastoran ada hantu anak kecil yang selalu menangis dan sekali waktu iseng menampakkan diri dan mengganggu satpam yang berjaga atau pengemudi yang melintas. Kau memang tak ambil pusing dengan nasib pohon bodhi atau mungkin pohon ara atau barangkali pohon banyan atau mungkin juga pohon gayam, ah apalah itu, yang jelas bentuk semua pohon itu serupa pohon beringin. Apalagi dengan sejumlah cerita keangkeran yang menyertai, biarlah hantu-hantu itu kabur entah ke mana. Akan tetapi, kau masih saja terkesiap, pohon-pohon peneduh yang telah puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun tumbuh sudah ditumbangkan dari seluruh penjuru kota, hanya dalam hitungan tujuh tahun sejak kau tinggalkan kota ini.

Kau pernah punya angan-angan untuk kembali dengan sesuatu yang membanggakan, yang bisa membuat orang-orang di rumah itu tecengang dan meratapi borok yang telah mereka buat, sesuatu yang entah apa, sesuatu yang setelah bertahun-tahun seperti tak terwujud, sepertinya tak akan pernah terwujud. Kau kira jalan yang ditunjukkan ibu akan menuntunmu dengan gampang untuk menyongsong kegemilangan masa depan. “Kau harus jadi insinyur juga!” Dengan nilai-nilai di ijazahmu yang mengagumkan, skor ujian masuk perguruan tinggi di atas tuntas, dan raihan prestasi akademik serta ekstrakurikuler selama sekolah yang berderet-deret seperti gerbong kereta api, kau dijamin mendapat beasiswa dan ditanggung segala macam biaya hidup selama menempuh studi di perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa, mulai dari pemondokan hingga uang buku dan uang saku. Namun, semua kemujuran itu tak bertahan lama, tak sampai tiga semester nilaimu sudah hancur lebur. Padahal semester pertama nilaimu nyaris sempurna; di kartu hasil studi hanya satu nilai B yang tertera. Semester kedua, memang B-mu masih tetap satu, tapi nilai mata kuliah lain menjadi taburan huruf yang membikinmu mengaduh. Semester ketiga, setelah melihat pengumuman nilai di kampus, kau frustrasi, berteriak-teriak sepanjang jalan pulang menuju rumah indekos dan hampir mengempaskan diri ke sungai dengan terjun dari jembatan. Dengan predikat nasakom, beasiswamu dicabut. Badan mana pula yang rela menanggung mahasiswa dengan indeks prestasi kumulatif nasib satu koma? Semua rincian soal anggaran studimu otomatis beralih pada ibu, yang juga mesti memikul semua ongkos hidupmu selama di perantauan.

Cuaca panas sekali: ketiakmu berkuah; kausmu basah oleh keringat. Kau terlintas untuk mengarahkan sepeda motormu menuju pasar, menemui seorang kawan. Suntuk sekali berkeliling tanpa tujuan jelas dan kepala pusing tujuh keliling karena berpikir keras sendirian; kau perlu teman mengobrol dan seketika kau teringat Rais. Kau ingin mengaku bahwa lebih baik bertahan di kota keparat ini dan mati dengan menyimpan mimpi ketimbang gentayangan ke seluruh penjuru dunia dengan sekian beban di pundak yang mesti ditunaikan, tapi tak kunjung mengerti untuk apa dijalani. Barangkali saat bertukar gagasan dengan Rais, kau dapat merancang rencana lain atau jalan lain yang bisa kau pilih. Siapa tahu kau bisa belajar langsung dari kawanmu yang memilih melanjutkan usaha keluarganya ketimbang menempuh sekolah—sebuah pilihan yang dulu kau cemooh, tapi kini kau pikir brilian. Siapa tahu kau bisa menilik-nilik apa saja yang diperlukan untuk membangun bisnis atau mencari peluang berdagang sesuatu yang menjanjikan dan dapat mendatangkan pundi-pundi uang. Ya, siapa tahu. Namun, kau lupa, tak ada lagi duit di sakumu, tabunganmu lenyap, sudah betul-betul menjadi rudin. Tidak sampai hati membiarkan orang lain jadi macam gembel justru kau yang kini melarat. Ah, atau kau bisa mencoba menemui kakek, menawarkan diri untuk menggembalakan sapi. Dengan begitu, kau tak perlu pusing memikirkan mencari modal usaha. Kendati kau agak cemas apa kata orang-orang. Sementara ibu mungkin akan bersegera menerawang sambil menaksir ijazahmu dan merutuk, “Tujuh tahun sekolah dan yang kau dapatkan hanya tanda tamat palsu!” Lalu ibu akan melungsurkan kertas itu ke tungku. Mungkin pula kau ikut dijungkalkan ke sana. Ah, kau memang perlu teman bicara agar kau tak berpikir yang bukan-bukan.

Namun, kau sadar, ini jam-jam ramai, bukan waktu yang tepat untuk bertandang ke toko Rais. Beberapa kali kau berkunjung pada saat repot seperti sekarang, dengan niat bercakap-cakap, tetapi berujung kecewa lantaran diabaikan. Kau mengonggok di sana, sementara Rais sibuk dengan kalkulator dan meladeni pegawai serta pelanggan yang bertanya ini dan itu mengenai berbagai peralatan elektronik. Kau yang hendak bicara, bukan merenung-renung bak patung sang pemikir, terpaksa mengamati perputaran uang dan pertukaran barang. Dengan perasaan dongkol kau sungguh berharap hantu pohon yang saban malam keranjingan menyapu itu datang lebih cepat agar seisi toko panik dan lekas bubar. Akhirnya, sebelum mati bosan, kau menyelinap dan minggat dari sana. Saat bertemu tempo hari, Rais terkekeh-kekeh sambil mengucapkan permohonan maaf lantaran tak dapat memuliakan tamu dengan layak. Kau mengangkat bahu, “Tamu-tamumu, maksudku pelanggan-pelangganmu itu, lebih pantas didahulukan.” Rais hanya bisa cengar-cengir.

Kau merasa harus mampir ke rumah Maharani, lalu mengajaknya bertamasya. Kau akan memboncengkan Maharani di belakang, mungkin kalian akan pergi ke stadion olahraga, dan sepanjang jalan kau akan bercerita soal perantauanmu atau kau akan membagikan kegundahanmu. Kau sudah selesaikan studi, tapi sungguh tak tahu, apa yang dapat kau lakukan setelah ini. Dunia seperti sebuah pintu yang terbuka, tetapi kau tak kuasa untuk melangkahkan kaki ke mana. Maharani menukas, “Sungguh kah pintu itu terbuka?” Kau menggeleng, memang tak ada yang terbuka, dan kau ingin merengek, tetapi malu. Maharani membentakmu, “Sudah tua!” Kau pun bersungut-sungut, kenapa ketika beranjak tua, orang-orang dewasa tidak boleh menangis. Padahal kau diam-diam kerap menangis, bahkan tak mengenal waktu. Kadangkala ketika asyik berkumpul atau bercakap-cakap akrab dan seru, kau sering mengamati gerakan tangan, posisi tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan mata saat kawan-kawanmu berbicara. Dan tiba-tiba sesuatu membuat gelisah lalu ingin menyingkir dari keramaian. Terbirit-birit kau minta izin menggunakan kamar kecil. Kau masuk ke bilik kakus itu, lekas merapatkan pintu, bersecepat membuka keran besar-besar agar suara curahan air dapat menyamarkan isakanmu. Itu bukan satu dua kali terjadi. Saking seringnya menangis dalam momentum tak tepat, kau agak cemas andaikata orang-orang tahu. Mereka barangkali akan mengolok-olokmu sebagai Lelaki Air Mata dan tanggal lahirmu mereka sebut sebagai sebagai Hari Air Mata Nasional. Gerombolanmu memang suka meledek apa saja. Ya, mau bagaimana lagi kalau tiba-tiba ingin menangis?! Akan tetapi, ibu tak pernah menangis. Hanya saja, saat masa krusial itu terjadi, ibu jadi tak banyak bicara dengan lelaki itu. Ibu memang bukan orang yang banyak bicara, tapi bukan berarti ibu sosok perempuan dengan wajah masam dan selalu merengut. Ia lebih banyak mendengarkan. Namun, kerabatmu bilang, itulah yang membuat lelaki itu berpaling. Lelaki sibuk, tambah kerabatmu itu, suka mengobrol dan perlu teman bicara yang setara. “Rekan kerjanya yang juga insinyur itu mungkin memberikan apa yang ayahmu cari.” Kau mendelik, tersinggung mendengarkan omong kosong itu, seakan jenjang pendidikan adalah masalah terbesar dalam hubungan lelaki itu dan ibu. Kau tak terima, ibumu bukan orang bodoh meski tak sekolah tinggi. “Lelaki itu saja yang tak tahu diuntung!”

“Bagaimana denganmu, Maharani?” tanyamu. Waktu mendengar berita Maharani akan menikah, kau terkaget-kaget. Sepucuk surat undangan itu datang terlalu tergesa-gesa. Meski kalian sudah lama berpisah, kau agak tak rela saat mendapat kabar bahwa sang mempelai lelaki yang akan menyunting Maharani sudah berumur—untuk tak menyebutnya tua bangka. “Kau tidak merebut ….” Kau ingin bertanya, kau ingin tahu, kau ingin sekali mengobrol dengan Maharani. Tapi kau ragu-ragu; kau khawatir Maharani sudah bahagia dengan suaminya dan kehadiranmu yang mendadak di balik pintu rumah Maharani mungkin hanya akan menimbulkan kecanggungan.

Lagi pula kau selalu gundah ketika berhadapan dengan perempuan. Dahulu, pengalaman becumbu dengan Maharani sempat membuatmu agak angkuh dan yakin suatu waktu kau akan melakukan itu pada teman dekatmu yang lain, pada orang-orang yang membuat hatimu tergetar sekaligus tenteram, dengan gampang, hingga kemudian segalanya sudah berlalu bertahun-tahun lampau dan hingga sekarang kau hanya bisa mengenang tanpa pernah sanggup mengulang.

Kepalamu mendadak pengar waktu melalui bekas gedung sekolah dasarmu dulu. “Ah, bangsat!” Tak kuat menahan denyut-denyut saraf di belakang kepala, kau lampiaskan sakit itu dengan mengumpat-umpat. Kau terus menggegaskan motor sambil bersusah payah menjaga keseimbangan tubuh agar tak oleng dan tak ambruk. Kau ingin lekas pergi, tapi bayang-bayang masa lalu itu, yang macam hantu, tak tampak, tak berjejak, terus mencengkeram kuat. Hari itu, hari itu, … tahu-tahu ada yang bergerak-gerak di paha dan lantas berlanjut ke pangkal paha. Kau membelalakkan mata dan mulutmu mendadak menganga. Seseorang merogoh sesuatu di balik celana merah pendekmu. Kau lekas memundurkan kursi, buru-buru berdiri, dan bergerak menjauh. Di kolong meja itu, Boy menyeringai. Kawan sekelasmu yang postur tubuhnya tinggi, besar, dan tegap jauh melampaui semua orang di kelas itu semestinya memang sudah ada di kelas atas, tapi ia tinggal kelas beberapa tahun karena kebandelannya dalam bersikap, kebebalannya setiap belajar dan ujian, serta kebengalannya dalam berperilaku. Beberapa kali, kawan-kawan perempuan di kelasmu terisak-isak karena Boy mengintip dalaman mereka dengan cermin bundar kecil di rautan pensil yang ia selipkan di jalinan tali sepatu, bahkan Boy beberapa kali iseng atau nekat atau cari mati dengan menarik ke atas rok kawanmu, membuat anak perempuan itu menjerit-jerit histeris dan menangis, sementara anak laki-laki terbahak-bahak. Bayang-bayang itu mengganggumu. Ketika itu, kau tak pernah menangis dan tak pernah melaporkan rogohan tangan di pangkal pahamu, yang dilakukan Boy berulang kali. Kau hanya bisa menjauh dan selanjutnya membiarkan dan belakangan menikmati. Namun, setiap kali kau teringat itu, kau tiba-tiba ingin menangis.

Kedatangannya memang macam hantu. Beberapa hari setelah kau pulang dari rantau, Boy menyelinap masuk kamarmu. Perlu uang, katanya. Kau memberikan tabunganmu yang tak seberapa itu seraya menasihatinya untuk berhenti melakukan perbuatan-perbuatan jahanam. Kau paham, tak gampang memberhentikan kebiasaan yang sudah jadi semacam candu yang membikin ketagihan. Lalu ia lenyap bak hantu pula. Lama tak muncul, Boy datang lagi, pekan lalu. Dengan raut muka murung. Kau tahu apa yang ia inginkan. Di dompetmu hanya tersisa enam lembar uang sepuluh ribu rupiah, lima lembar uang lima ribu rupiah, uang seribu rupiah yang nyaris sobek, dan beberapa keping recehan. Kau ikhlaskan seluruh uang sepuluh ribu itu untuk Boy. Ia betul-betul sedang kere sampai tersungkur-sungkur saat berterima kasih. Kau mengulang nasihat itu. Kau yakin ia tak benar-benar mendengarkan perkataanmu sehingga terpaksa menegurnya, “Kalau pun tak bisa langsung berhenti, setidak-tidaknya kau kurangi!” Alih-alih insaf, dua hari berselang kau justru mendapati foto Boy terpampang di halaman berita kriminal Sumatera Ekspres. Kakinya dipelor timah panas saat berusaha melarikan diri dari aksi pencurian yang gagal. Kau mengutuk-ngutuk kelakuannya.

Kau menepikan sepeda motormu di seberang markas kepolisian. Rintik-rintik hujan panas tiba-tiba turun. Tak baik buat kesehatan, kau berteduh di bawah pohon entah apa, yang pasti bukan pohon beringin. Sambil menunggu hujan reda kau iseng bertanya-tanya, ke mana hantu pohon bodhi atau pohon beringin itu mengungsi, dan seketika kau merinding sendiri.

Kau penasaran dengan kabar Maharani sekarang. Maharani mungkin sedang repot menimang-nimang anak mereka yang ketiga. Siapa tahu dan siapa peduli. Kendati kau ingin sekali bertemu dengan dia. Tidak untuk meminta kecupan, hanya ingin mengobrol, mungkin tentang benda-benda angkasa luar atau barangkali tentang hantu-hantu yang mengganggumu. Kau juga ingin tahu nasib Boy di balik terali bui, apakah ia kedinginan. Barangkali ia memerlukan selimut. Kau terpikir untuk membawakan sarung. Namun, kau berpikir ulang, ah, dia hanya datang kalau ada maunya. Kau menimbang-nimbang, mungkin kau memang perlu membawakannya sarung, kalau perlu lengkap dengan sajadah dan peci dan tasbih. Kau girang mendapat ide cemerlang itu. Hanya Rais yang memungkinkan untuk kau jumpai sekarang. Tapi kalau ia masih sibuk mengurus tiga cabang tokonya, kau mesti menunda jika tak mau muak menunggui pekerjaannya tuntas, yang faktanya tak mungkin selesai karena satu demi satu telepon bisnis itu bagai bergantian berdering setiap sekian menit. Atau barangkali kau memang mesti memanggil para hantu pohon untuk masuk ke dalam frekuensi jaringan telepon supaya Rais terguncang dan melepaskan ponsel dari genggaman sehingga kalian bisa bercakap-cakap dengan saling tatap.

Ibumu akan bahagia benar saat membaca dan menemukan namamu di surat pengumuman. Namun, kau akan berusaha menunda untuk memberitahukan kabar bahagia bagi ibumu, tapi bahaya bagimu, itu. Mungkin kau akan selipkan surat itu di sela-sela lemari pakaian tepat di bawah tumpukan kemeja atau di mana saja yang tak akan terjangkau ibu. Setidaknya kau telah berniat akan menyimpan dan merahasikan pengumuman itu selama seminggu ke depan hingga kau benar-benar bisa dengan lega menentukan putusanmu. Atau setidak-tidaknya waktu seminggu bisa kau gunakan untuk mencari-cari, menyiapkan amunisi, mematangkan alasan, dan menghadapi segala kemungkinan gerutu dan rutukan panjang-pendek yang akan disampaikan ibu. Akan tetapi, bagaimana pun kau tak bisa membiarkan ibumu bersedih. Kau tak sampai hati menghancurkan harapan yang sudah dibangunnya dengan mengorbankan segala yang ia punya. Setiap kali kau mengepal tangan dan nekat untuk memberontak, menolak semua nasihat, melawan ucapan dan anjuran, bersikap dingin, dan barangkali menyingkir dari rumah, atau singkatnya meninggalkan semua hal tentang ibu, dengan melupakan dan menghapus ibu, separuh bagian dirimu yang telah begitu yakin itu seketika tumbang dan tak sanggup meronta. Semua rencana itu menguap usai melihat wajah ibu, melihat bekas luka di kening ibu.

Hujan panas itu justru menderas. Kau berjongkok, kelelahan terlalu lama menunggu hujan reda. Saat itu, kau melirik ke motormu yang basah diguyur hujan. Kantong kresek hitam berisi berkas surat-surat itu masih tergantung di sana. Kau menggerundel, bisa-bisanya luput menyelamatkan benda itu. Buru-buru kau bangkit hendak menembus hujan, tetapi silau halilintar diiringi suara menggelegar serta-merta membuatmu gemetar. Kau hanya bisa termangu-mangu memandangi nasib surat-surat itu kini; koyak, hancur, dan mungkin sudah menjadi bubur. Ya, kertas sudah menjadi bubur, kau merasa geli, tapi seketika terkesima. Kau tersadar, terkadang semesta lucu sekali, seperti dirahasiakannya alasan hujan tiba-tiba turun mengguyur sehingga kau menjadi tak tabah untuk tak menyumpahserapahi apa saja dan menganggap semesta sedang bersekutu menghukummu. Namun, kini kau tersenyum-senyum sendiri seraya menatap langit. Barangkali inilah cara semesta, menghapus jejak-jejak ragu di hatimu, mengisyaratkan agar kau tak perlu meninggalkan kota ini lagi.

Kau agak lega lantaran punya bahan untuk berkilah ketika ibu nanti bertanya. Kalau pun besok atau lusa ibu memaksamu untuk memeriksa kembali pengumuman—ke warnet satu-satunya di ibu kota kabupatenmu—biarlah nanti-nanti saja kau tempuh perjalanan sejauh sembilan kilometer itu.

Mesin motor tua itu susah panasnya setelah kuyup oleh hujan. Kau mengengkol bebek bututmu sampai berkali-kali hingga akhirnya menyala. Kau melajukan balik menuju rumah. Tatkala melewati pusat perkantoran pemerintah kabupaten, kau menemukan pohon beringin di depan kantor bupati itu masih tumbuh dengan angkuh. Ingatanmu tak sanggup menjangkau hantu apa yang bersarang di pohon beringin keramat itu.

Palembang, 2017—2018

(Majalah Salo Sadang Edisi II, Januari-April 2018)

Catatan Hijrah, Jalan Menuju Pulang: Sebuah Epilog

(Yeni Roja Mutadho)

Sebuah epilog untuk buku antologi puisi “Catatan Hijrah, Jalan Menuju Pulang” karya Maya Azeezah.

Sesungguhnya agama, keimanan, atau keyakinan bukanlah warisan dari orang tua melainkan sesuatu yang menjadi pondasi dan pedoman dalam menjalani hidup. Ketika keyakinan dianggap sebagai dogma yang berasal dari warisan orang tua makan kehampaan-kehampaan dan keadaan ingin menghujat ketidakadilan yang dirasakan ketika doa-doa belum dikabulkan memungkinkan terjadi karena pemahaman akan nilai-nilai agama dan ketaatan beragama tidak dalam pondasi yang kuat dan belum adanya kesadaran tertinggi terhadap kebutuhan beragama. Dari situ, manusia sering kali berlari dari keyakinannya meninggalkan ajaran-ajaran agamanya untuk menjalani hidup bebas tanpa aturan agama.

Maya Azeezah adalah nama pena dari Maya Damayanti yang terlahir pada 30 April 1972 di Jakarta. Ia mulai menulis puisi sejak duduk di bangku SMP untuk dipasang di Mading. Selanjutnya memulai berkesenian bersama almarhum suaminya Eka Surya Saputra pada tahun 2009. Maya mempelajari monolog di Yogyakarta kemudian menyusun naskah dalam seni peran, menjadi sutradara dan juga pemain dalam karya-karyanya di antaranya adalah Selamatkan Ibu Pertiwi, Hitam Putih, Pulanglah, istana Pasir, Bunda Laksmi, Emergency Room, Ibu Selamatkan Negeri, Perempuan dalam Gerbong, dan Pulanglah Ayah. Sementara naskah drama yang telah dia bukukan adalah Perempuan dalam gerbong. Selain produktif menulis, menyutradarai, dan bermain peran dalam teater, Maya juga aktif menulis puisi yang tergabung dalam antologi puisi tunggalnya dan beberapa antologi puisi bersama, yaitu Kartini Masih di Situkah Kau, Mey Wulan, Membaca Kartini, Antologi Puisi Yogya dalam Napasku, Kasih Ibu, Antologi Puisi Bersama 66 PenyairTeras Puisi. Antologi puisi tunggalnya antara lain Mengenal dan Mengenang, Catatan Kehilangan, dan Risalah Cinta.

Membaca antologi puisi ini mampu menghanyutkan kita akan rindu, cinta, syukur, keikhlasan berterima pada setiap keadaan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Maya membawa kita terlarut dalam alunan emosi kecintaan dan pertaubatan yang mengetuk-ngetuk nurani kita untuk semakin dekat dan kembali lebih cinta, lebih berbaik sangka kepada ketentuan Tuhan, dan lebih meningkatkan lagi kuantitas dan atau kualitas beribadah, serta menikmati indahnya berbagi/shodaqoh.

Maya menuliskan kerinduan dan kecintaanya pada Tuhannya dengan bahasa yang sederhana namun begitu terasa keindahan dan kesyahduannya. Bahasa-bahasa sederhana namun mudah dipahami dan sarat makna. Tidak banyak Maya menggunakan metafor ke dalam puisi-puisinya namun justru dengan ungkapan-ungkapan apa adanya, penggunaan diksi sederhana ini mengungkapkan kejujuran hatinya telah terbuka untuk memenuhi panggilan kewajiban sebagai seorang muslim dan berhijrah dari masa-masa kejahiliyahan menuju masa-masa dalam ketaatan dengan sepenuh hati menjalankan kewajiban beraganmanya.

Gejolak kerinduan Maya terhadap Tuhan bermula pada awal ramadhan. Berangkat dari rasa rindu yang dalam pada sang pencipta Allah Swt., yang telah sekian lama penulis sempat meragukan siapa sang Maha bagi dirinya, setelah 45 tahun perjalanan hidup tak menemukan apa-apa, meski kerja keras sekeras kehidupan yang dilaluinya. Bukan karena datangnya bulan ramadhan, bukan pula karena merasa berkurangnya usia, entah rindu yang dalam dan kesadaran yang sangat besar sebagai hambaNya dia ingin menjalani dan mendapatkan keridhoan Allah Swt dalam perjalanan jasmani serta keruhaniaannya. Rasa rindu yang syahdu inilah yang menggerakkan Maya untuk konsisten dan dan berkomitmen untuk mengisi tiap-tiap titik ramadhan dengan memuisikan kerinduan dan pencariannya kembali pulang, pulang pada kesejatian beragama yang bukan sekedar identitas namun menggerakkan seluruh hati dan langkah hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah Swt. semata.

Nuansa di dalam puisi-puisi sebelumnya, yaitu Mengenal dan Mengenang adalah tentang kecintaan penyair terhadap kegiatan menulis, cinta, kenangan, dan cita-cita hidup di antara karya di dalamnya adalah Mengenal dan Mengenang, Istana Pasir, dan 5 Bintang Laut di Samalona. Di dalam antologi ke dua Catatan Kehilangan tergambar adanya rasa kehilangan Maya terhadap orang yang sangat dicintainya , yaitu Ayah sebagai sosok pemberi cahaya di dalam hidupnya juga terdapat bahkan juga kehilangan momen, di dalamnya juga terdapat penggambaran kerasnya perjuangan perempuan yang mencoba mendobrak peradaban. Pada antologi ke-3 Risalah Cinta jelas tergambar Maya lebih banyak mengungkapkan tentang pemujaannta terhadap cinta. Cita yang begitu menjerat, cinta yang begitu magis, cinta terhadap lelaki kekasih hati, cinta terhadap cita-cita dan keinginan.

Ada nuansa yang berbeda dari 77 judul puisi pada antologi Menuju Jalan Pulang ini dengan antologi puisinya sebelumnya. Di dalam antologi ini diawali dengan kerinduan Maya yang syahdu terhadap Tuhan hal ini tertuang ke dalam puisinya berjudul Aku Rindu. Di dalam puisi ini Maya hanya menuliskan dua larik ke dalam puisinya, yaitu // Aku sudah rindu// Bagaimana denganmu// kalimat-kalimat sederhana ini begitu padat untuk mewakili segenap kerinduan Maya terhadap Tuhannya. Kekuatan rindu yang tak mampu diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang panjang, perasaanya rindu yang membuatnya tak sanggup lagi berkata-kata kecuali kata rindu, rindu yang sudah dia rasakan saat ini.

Sebuah rasa yang berbeda dan begitu istimewa dia temukan di saat-saat mengais hari-hari awal hingga sisa-sisa ramadhan. Arah Mata Kompas adalah salah satu puisi di awal ramadhan sebagai tonggak awal ditancapkannya keteguhan keimanannya, menetapnya arah hidup Maya sebagai seoarang muslim yang hendak memegang teguh ajaran agamanya, menjalankan perintah dan larangan-Nya.

Pada puisi berikutnya Pada Hamparan Sujudku, tergambar jelas bahwa setiap hari bagi Maya memberikan debar-debar kecintaannya tumbuh pada Tuhannya juga pada agamanya sehingga menumbuhkan keikhlasan dan kekuatan untuk menjadikan Islam dan Allah sebagai napas hidupnya menjadi puisi baginya untuk menuju ke jalan kebenaran. Ungkapan penuh syukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan juga sesal terhadap hari-hari yang telah terlewati sepanjang perjalanan hidup yang begitu jauh dari nilai-nilai ibadah mewarnai penuh dalam puisi-puisinya di sini.

Semakin ke tengah ramadhan Maya semakin menikmati keindahan berkholwat dengan Tuhannya semakin menikmati hidup dengan penuh syukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan untuknya. Semua itu terangkum di dalam puisi-puisinya di sini Malam menuju Fajar, Surat Si Tukang Semir, Jelang di Tengah Malam, Sejumput Doa Sederhana, Dzikirmu Adalah Cerita, Tinggalkan, Kafa, Demi Masa,Kembang Api dan Purnama, Sekalipun Tersembunyi dalam Bisikan hati, dan masih banyak lagi. Maya juga menggunakan huruf-huruf hijaiyah sebagai judul dan isi puisinya dengan kandungan makna yang dia tulis dari tiap-tiap huruf hijaiyah dengan sangat unik dan penuh makna, di antaranya yaitu Ba’, Ta’, Tsa, Jim, Kha’ di Genangan Malam, Mengingat Dal dan Hari Akhir, Beratnya Ra’ untuk Kutiru, Apa Tanda-Tanda yang Kau Dapatkan, Qof, dan Dialah Tempat Berharap.

Di Malam Kali Ini Apa yang Kau Lihat dari Mataku

(Abi N. Bayan)

Di malam kali ini
apa yang kau lihat dari mataku?
selain dodola dan tanjung gorango
atau pulau sum-sum dan air kaca
sungai yang menikum ke matamu
dan kau bilang air terjun raja.

Apa kau yang lihat dari mataku?
selain bisoa dan akelamako
hamparan pasir dan tanjung-tanjung
teluk yang memutih yang sesekali
ingin kita peluk sambil mendengarkan
detak kaki ayah yang turun setelah subuh
dan pada pagi yang damai kita duduk
berhadapan dan laor menari di lidah kita.

Apa yang kau lihat dari mataku?
selain April yang basah, Mei yang dingin
di antara bunyi piring yang tak senada
padahal ini bulan merupa rumah
tempat kita berkumpul dan pulang
ke tanah ibu yang laut, ke tanah ayah yang sungai.

Morotai, 2018.

Catatan:
Bisoa : nama tanjung Loloda di antara desa Supu dan Posi-posi.
Akemalako: mata air/mulut sungai besar di desa Supu.
Laor/Wao: sejenis ulat kecil laut yang biasa keluar pada bulan Mei dan April di pesisir Halmahera (di antara Tanjung Igo hingga tanjung Bisoa) dan Morotai (tanjung Gorango dll.).