Dedi Tarhedi

dediDedi Tarhedi lahir di Bandung, 6 April 1966. Sejak kelas 5 SD ia suka membaca puisi-puisi yang dimuat di Koran Pikiran Rakyat Bandung, kolom Pertemuan Kecil, asuhan penyair Saini KM.

Saat masih SD di Cikoneng Ciamis itu dia nekad ngirim puisi-puisinya pake tulisan tangan sendiri. Mungkin hanya jadi komsumsi tong sampah saja. Karya pertamanya berupa cerita pendek dimuat pertama kali saat kls 2 SMA di koran Sinar Harapan (almarhum), Suara Pembaruan, Majalah HAI asuhan Arswendo Atmowiloto dan Pikiran Rakyat.

Selepas SMAN2 Tasikmalaya, terus mengikuti Sarjana Kesejahteraan Sosial di STKS Bandung. Kemudian menjadi Pekerja Sosial di Timor Timur sampai Timtim lepas dari NKRI tahun 2000. Dan selama itu pula vakum menulis.

Setelah bersentuhan dengan Sanggar Sastra Tasik (SST), saat menjadi Lurah Nagarawangi Kota Tasikmalaya, dengan Acep Zamzamnoor, Saeful Badar dan Nazarudin Azhar, tahun 2004 kembali menulis Puisi dan Cerpen Di Mitra Desa, Priangan dan Radar Tasik. Sempat main Teater dengan Teater28 Unsil, dan membaca puisi dengan sang maha guru Willy Rendra di Unsil Tasikmalaya.

Buku Antologi Puisi yang sudah terbit: Ciuman Paling Membara Walau Kita Sengsara (Situseni Bandung 2016).

Sekarang sehari-hari, om Dedi, biasa dipanggil teman kantor dan rekan sesama pekerja seni, bekerja sebagai PNS Pemerintah Kota Tasikmalaya.